Ngitung Kasau
Air yang telah disiapkan sang dukun berikut 3 butir jeruk nipis yang telah dijampi mantra. Airnya akan dimandikan pertengahan malam nanti.
“Mudah mudahan Allah SWT mengizinkan usaha kita,” ucap sang dukun di akhir pembicaraannya malam itu.
Sebelumnya sang dukun sudah mencicipi asam garam (sase_pemasin) yang telah disiapkan istri mang Dika pada sebuah piring kecil.
Sase ini sebagai syarat setelah melakukan pengobatan harus mencicipi asam garam agar penyakit yang diobati tidak kembali kepada yang mengobati.
Malam berlalu dan pagi kembali. Namun hari itu tidak seperti biasanya saat mang Dika masih di pembaringan.
Bagaikan kunyit dan kapur sirih, keadaan mang Dika berangsur normal. Pagi itu ia tiba-tiba meminta dibuat kan kopi dan tumpik gandum untuk sarapan kepada sang istri.
Senyum semringah di wajah sang istri mengisyarat kan kebahagiaan tiada tara sebab mang Dika sudah berangsur pulih dari sakitnya.
“Sudah lah Bang,” kata istri mang Dika, “yang utama kita tetap bersyukur kepada yang maha kuasa. Atas izin-Nya yang dilontarkan oleh dukun kampung keadaan Abang sekarang berangsur pulih setelah di obati malam tadi.”
“Semua kita serah kan kepada sang pemilik jiwa.”
“Perihal lahan biarkan saja jangan diperdebatkan lagi lebih baik mengalah sebab lahan kebun tak bakalan dibawa mati,” sambung istri mang Dika.
Kisah di atas ternyata masih terjadi dari dulu hingga sekarang di wilayah Bangka Selatan yang memang banyak menyimpan misteri.
Hal-hal gaib hingga bisa membuat seseorang sakit bahkan meninggal dunia hanya karena berselisih faham.
Untuk mempertahankan hak terkadang kita harus mempertaruhkan nyawa namun semua kita kembalikan kepada Allah SWT sebagai penentu segala sesuatu.
Walahualam bissawaf.
