Oleh: Weni Lestari, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD), saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di depan kamera ponsel, memegang produk, dan berbicara secara langsung kepada penonton yang tidak saya kenal, secara live di media sosial. Namun, semua itu menjadi kenyataan ketika saya mengikuti mata kuliah Digital Entrepreneurship.

Mata kuliah Digital Entrepeunership yang di mana dosen Pengampunya Ibu Adevia indah Kusuma, S.E., M.M. membuka wawasan baru yang sangat jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Saya pikir, perkuliahan ini hanya akan membahas konsep-konsep dasar tentang bisnis digital atau teori pemasaran online. Ternyata, kami diminta untuk langsung praktik—memasarkan dan menjual produk secara live di media sosial, menggunakan gaya bahasa dan pendekatan kami sendiri.

Baca Juga  Timah Bangka Belitung: Berkah atau Musibah?

Saya masih ingat bagaimana rasanya saat pertama kali melakukan live. Jantung berdegup kencang, tangan berkeringat, dan pikiran kacau.

Apa yang harus saya katakan? Bagaimana kalau tidak ada yang menonton? Bagaimana jika saya salah ucap? Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benak.

Saat live dimulai, saya mulai memperkenalkan produk yang saya jual—produk yang saya pilih sendiri dan saya pahami manfaatnya. Saya menjelaskan dengan bahasa saya sendiri, tanpa dibuat-buat. Saya belajar menyesuaikan intonasi, menanggapi komentar penonton, dan menjaga semangat meskipun viewers-nya tidak banyak.

Dari pengalaman ini, saya belajar banyak hal. Pertama, pentingnya keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Kedua, komunikasi yang baik ternyata sangat penting, tidak hanya untuk dunia bisnis, tetapi juga untuk profesi guru.

Baca Juga  Bingung Nomor WhatsApp Diblokir atau Tidak? Ini Cara Mengeceknya