Kau, yang kini bersemayam di antara Swarga,
Masih selalu kusebut dalam setiap bisu,
Seperti mantra yang tak pernah pudar
Seperti janji yang tak pernah ingkar

Sebab waktu tak pernah mengikis jejakmu,
Hanya saja ia mengajarkanku
Cara mencintai yang tidak lagi menggenggam
Dan cara mencintai yang tidak lagi padam

Kau tiada,
Namun setiap hela napasku
masih mengeja namamu
Dalam bahasa yang tak dimengerti siapa-siapa,
Kecuali aku dan semesta.

Baca Juga  Pantun Lebaran Idulfitri (Bagian III): Cikar di Ari Rayo