Oleh: Putri Farras Lutfiah – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis, terutama di kalangan remaja.

Salah satu dampak paling mencolok adalah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi, hiburan, sekaligus rujukan gaya hidup.

Di Indonesia, berdasarkan data Statista (Februari 2025), tercatat sekitar 143 juta pengguna aktif media sosial, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengguna media sosial terbesar di Asia Tenggara dan ketiga di Asia Pasifik setelah Tiongkok dan India.

Salah satu platform yang paling digemari di Indonesia adalah Instagram, dengan sekitar 90,2 juta pengguna per Desember 2024. Popularitas Instagram bukan hanya sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai media promosi yang sangat efektif.

Baca Juga  Dilema Pertambangan: Antara Keuntungan Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan

Fenomena ini turut melahirkan profesi baru, yakni selebgram  (selebriti Instagram) yang memiliki daya pengaruh luar biasa dalam memengaruhi opini publik, terutama generasi muda. Istilah endorsement pun kian akrab di telinga masyarakat, merujuk pada strategi promosi yang melibatkan tokoh atau figur publik untuk mendukung suatu produk.

Endorsement selebgram, atau kerja sama promosi antara merek dengan figur publik di media sosial, bukan lagi hal asing dalam dunia pemasaran digital. Bahkan, strategi ini kerap dinilai dapat dipercaya dan dekat dengan konsumen, dibandingkan dengan iklan konvensional.

Selebgram dianggap lebih “nyata”, relatable, dan kredibel karena mereka menunjukkan penggunaan produk dalam keseharian, bukan sekadar tampil dalam iklan yang kaku dan formal.

Baca Juga  Membangun Bundaran Prasasti Kota Kapur: Identitas Ibu Kota Provinsi

Remaja perempuan merupakan kelompok yang sangat aktif di media sosial. Mereka berada dalam tahap perkembangan yang membuat mereka lebih sensitif terhadap citra diri dan penerimaan sosial.

Dalam konteks ini, kosmetik menjadi lebih dari sekadar alat kecantikan, tetapi juga menjadi simbol identitas dan kepercayaan diri. Ketika seorang selebgram yang dikagumi merekomendasikan suatu produk kosmetik, remaja cenderung mempercayainya dan bahkan menirunya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa endorsement selebgram tidak hanya memengaruhi aspek informatif, tetapi juga membentuk persepsi dan preferensi merek.