Oleh: Rudi Yanto — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi besar dalam sektor perikanan, khususnya budidaya perikanan. Wilayah ini didukung oleh luas perairan, keberadaan lahan bekas tambang timah, serta permintaan pasar yang terus meningkat terhadap produk perikanan.

Pengembangan budidaya perikanan menjadi salah satu program prioritas pemerintahan daerah, dengan tujuan meningkatkan produksi, kesejahteraan masyarakat, dan diversifikasi ekonomi pasca-tambang

Potensi dan Peluang

Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, namun lahan bekas tambang kini dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar maupun laut.

Kolong-kolong bekas tambang seluas ribuan hektar menjadi ruang potensial untuk pengembangan ikan lokal dan ikan hias, seperti Betta burdigala, Parosphromenus bintan, serta komoditas konsumsi seperti lele, nila, dan patin. Selain itu, budidaya udang vaname juga mengalami pertumbuhan signifikan dan menjadi andalan ekspor daerah.

Baca Juga  Pilar Konvergensi Pariwisata dan Pertambangan: Inovasi Infrastruktur dan Pemanfaatan Sumber Daya

Pemerintah daerah mendorong pemanfaatan lahan eks tambang dan kawasan pesisir melalui program food estate, dengan luas lebih dari 45 ribu hektar, untuk menjadi pusat produksi perikanan budidaya. Strategi ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru.

Program dan Kebijakan

Upaya pengembangan budidaya perikanan di Bangka Belitung meliputi beberapa aspek utama:

Peningkatan Produksi: Target peningkatan volume produksi budidaya mencapai lebih dari 16.000 ton per tahun, baik dari sektor air tawar maupun laut.