Serial Drakula Zaman Now: Hampir Ketahuan
Aku yang gelagapan menerima pesan Emir, berusaha menjauh, mengikuti arah GPS yang dikirimkan drakula itu padaku. Aneh sekali, aku begitu penurut saat membaca pesan itu. “Juwi!!!” teriakan temanku, Amanda, tak kuhiraukan. Aku terus mengikuti arah yang ditunjukkan GPS, menyusuri jalan setapak di belakang sekolah. Tanaman perdu berduri yang tumbuh liar menjadi saksi langkah kakiku yang seakan ingin segera sampai ke arah panah yang menuntunku. Ayo, lekaslah, jangan sampai ada yang mengikutiku, begitulah batinku berkata. Sedangkan pikiranku menyuruh laporkan saja keadaan Emir.
Suara orang berlari semakin dekat. Sementara aku yang melihat tubuh Emir sepucat mayat dengan bibir membiru, matanya membelik, mulut megap-megap. Ketakutanku bertambah dengan langkah-langkah yang semakin jelas, aku harus sembunyi. Di menit ke sekian, jeritan perempuan ditingkahi suara dengungan yang takjelas mengiringi kepergian orang-orang. Sepasang mata bersiborok dengan netraku. Namun, sesaat, semua sepi, aku hampir ketahuan.
