Karya: Yoelchaidir

Dingin masih merengkuh raga berselimut sunyi tanpa bunyi…
Hanya desahan napas tanda bersemayam diri yang kekal tak berantara…
Ragu masih bersemayam pada hati di bayang bayang rindu tak mampu bertepi…
Hanya gulana memaksa untuk meredam dendam menepis seteru yang tak bersekutu…

Hingga kapan raga dan hati bertahan tanpa asmara yang menuntut waktu tiba…
Duhai sang jasad yang hanya patung dari tanah di aliri jiwa…
Duhai sang hati yang di tiupi ruh hingga mampu bertahan menunggu…
Penuhi kehendak Ilahi yang selalu pasti tak pernah mengingkari janji…

Insan insan pilihan mematikan diri sebelum mati…
Membaca diri dari diri sebelum membaca dengan qalam…
Semesta adalah guru yang nyata untuk mengenal sejati segala cinta…

Baca Juga  Pantun: Air Pergi lah Kering

Belum selesai kata kata terucap lirih dari bibir mungil yang sedari tadi asyik membaca di medsos, Dewi tersentak kaget. Mobil yang ditumpanginya terhenti sehingga membuat Dewi dan sebagian penumpang yang masih terjaga mengarahkan pandangan ke kaca depan mobil bus.

Malam itu tepat pukul 00.15 Wib. Ternyata kami melewati sebuah daerah bekas perkampungan usang yang kini hanya tinggal puing puing pondasi yang ditumbuhi rumput rumput liar.

Banyak pohon pohon kayu yang telah besar menjadi sebuah belukar. Hiruk pikuk penumpang bus rombongan wisata dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya dari ponsel beberapa penumpang menambah suasana mencekam.

Mesin mobil dan lampu serta merta mendadak mati total saat melintas rindangnya pohon bambu. Lokasi itu tak seberapa jauh dari tempat pemakaman umum sebuah desa di ujung perkampungan.

Baca Juga  Aku dan Bayanganan

Dengan cekatan sang kernet menghampiri sopir yang telah beberapa kali telah mencoba untuk menghidup kan kembali mesin mobil nya.

Gimana bang, mungkin kabel akinya lepas tanya sang kernet. Coba kamu cek, jawab sang sopir sembari menyerahkan sebuah senter kecil kepada sang kernet.

Tak lama berlangsung sang kernet kembali setelah mengecek kabel aki pada sisi sebelah kiri bagian bawah mobil. Aman bang sudah saya cek cuma sedikit kendor tukas sang kernet dan sudah saya kunci kembali.

Namun beberapa kali dicoba untuk menstarter kembali mesin mobil dan menyalakan lampu mobil tetap hanya sia sia.

Oooo…ada yang becanda rupanya. Kembali sang sopir berkata pelan kepada sang kernet.

Baca Juga  Putri Kulong Bakung

Perlahan sang sopir turun dari mobil seraya berkata lebih pelan.