“Ya, kalau ngambilnya di freezer, selembek apa pun makanan, pastinya membatu.” jelas Abi.

“Ya, ditumis ajalah sayurannya. Selepas ini ke warung mengembalikan tulang sapi yang salah beli. Kirain ayam, gagal makan ayamnya.” Ummi pun menumis sayuran, menggoreng tempe, dan kemplang ikan.

Selesai masak, mereka pun makan, karena waktu telah menunjukkan pukul 09.05. Sambil menunggu makanan diolah di lambung, Ummi kembali membuka HP, mengomentari berita-berita yang dibacanya.

“Bi, andai negara kita ini diperintah sesuai hukum dan UUD-nya, sejalan dengan peraturan pemerintah yang berlaku, kita ini akan menjadi negara maju, ya. Alamnya, keanekaragaman flora faunanya, sumber daya insani, banyak orang-orang berprestasi, bahkan jenius yang berasal dari negara kita. Tinggal pembiasaan pada hal-hal karakteristik baik, dipoles, ketersediaan sarana dan prasarana, sudah majulah kita.” Panjang lebar penjelasan Ummi.

Baca Juga  Bulan Ketiga Belas

“Syarat semua itu, tergantung pemimpinnya. Sebab, pemimpin itu bagaimana rakyatnya. Intinya, antara rakyat dan pemimpin itu berkaitan. Keterlaksanaan semuanya mencerminkan karakteristik sebagian besar rakyat yang dipimpinnya.” Abi menjelaskan pendapat Ummi.

“Hmmm, bisa juga, mental sehat atau mental sakit, ya?”

” Kita juga termasuk negara maju, sekarang,” sambung Abi.

“Maju apanya? Utang menggunung menurut majalah Ekonomi dan Politik yang dibaca tadi. Lagian sekarang kita terkenal sebab kepalsuan meraja lela,” tukas Ummi.

“Ya, maju utangnya, maju korupsinya, pokoknya kita ini sudah termasuk negara maju, haha.”

“Ish, dah, itu maju ditinjau dari segi masalah, berarti. Semoga ke depannya negara kita benar-benar menjadi negara maju. Baik ekonomi maupun Ipteknya,” doa Ummi, kemudian berlalu untuk menulis hasil diskusi ini menjadi Serial Keluarga Ummi yang akan diunggah di timelines.id.

Baca Juga  Menyapa Rida