“Sekarang kan sudah jalan 6 bulan, kita lihat di sisa 6 bulan ini, apakah ada kegiatan yang tidak relevan lagi, kalau ada, maka akan kita coret dan sesuaikan,” terangnya.

Efrianda menjelaskan, defisit ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya tutupnya beberapa perusahaan sawit di Bateng karena kasus timah.

“Kalau kemarin, kita dapat transfer dana dan PAD kita cukup mumpuni, sedangkan saat ini ada perusahaan yang berkegiatan di Bangka Tengah sudah tutup, seperti kasus timah yang booming,” ujarnya.

“Kasus ini benar-benar buat kaget di beberapa waktu belakangan ini,” tambahnya.

Efrianda menuturkan, kasus timah di Bateng berdampak besar pada pendapatan pajak dari perkebunan, pabrik sawit, usaha UMKM, penginapan hingga restoran.

Baca Juga  2 Warga Air Mesu Bersimbah Darah usai Dibacok, Pelaku Diamankan Polisi

“Misalnya dulu 1 bulan bisa Rp1 miliar, sekarang cuma Rp700 juta,” tutupnya.