Kita dalam Doa Mereka
Lalu, bagaimana perlakuan kita terhadap mereka?
Bhakti kita kepada mereka?
Kapan terakhir kita mendo’akan kebaikan untuk mereka?
Apakah mereka tersimpan di hati dan pikiran kita?
Bukankah telah banyak bekas luka didalam hati mereka
Luka sayatan-sayatan demi membela diri kita
Agar kita tidak kecewa dengan dunia yang sementara ini
Agar kita selalu terjaga dari segala keburukan
Dengan egois, kita lupa bahwa mereka telah berkorban
Mengorbankan jiwa dan raga atas kekecewaan kita kepada mereka
Perasaan mereka sering teiris seketika bentakan kita dilemparkan kepada mereka
Hati mereka hancur akibat hantaman makian kita
Kita rendahkan mereka
Kita acuhkan mereka
Kita muak dengan nasihat mereka
Kita buta dan tuli atas jerih payah mereka
Namun…..
Mereka tak pernah lelah dan menyerah
Untuk senantiasa berdoa demi kebaikan kita
Untuk memberi kita kekuatan dan keyakinan
Untuk membekali kita ilmu yang bermanfaat
Hingga…
Akhirnya kelak mereka berhenti mendoakan kita
Akhirnya kelak mereka berhenti menasihati kita
Akhirnya kelak mereka menutup lembaran ceritanya
Akhirnya kelak mereka menutup mata untuk selamanya
Saat ini…
Berdoa dan menangislah untuk mereka
Peluk dan ciumlah mereka dengan kehangatan
Mereka menanti kita dalam dekapannya
Mereka hendak mendengar cerita hari-hari kita
Jangan tunggu mereka menutup lembaran ceritanya
Jangan tunggu mereka menutup mata untuk selamanya
Tundukkan kepala kita di hadapan mereka
Rendahkan nada bicara kita di hadapan mereka
Orang tuamu ladang bhaktimu
Kehidupan di dunia hanya sebentar
