Tangis Haru Iringi Khataman Quran di Desa Sungkap
Menurutnya, pahala membaca Al-Qur’an adalah bekal yang akan menolong umat Islam di akhirat kelak. Ia pun mengajak seluruh yang hadir untuk istikamah.
“Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam yang tak hanya dibaca, tapi juga diamalkan, karena dengan itu bisa mendatangkan pahala yang berlipat ganda dan menjadi sumber kebaikan yang tiada habisnya,” tutur Efrianda.
Usai khataman, suasana haru menyelimuti saat para santri mempersembahkan paduan suara. Lagu-lagu islami mereka lantunkan sebagai bentuk penghormatan dan cinta kepada orang tua dan ustaz/ustazah.
Satu per satu santri melangkah menghampiri ibu atau wali mereka, membawa sehelai mahkota kecil yang diletakkan dengan takzim di kepala sang bunda, sebagai sebuah simbol penghargaan atas cinta dan doa yang tak pernah putus. Dalam peluk, tangis haru pun pecah tanpa suara.
Salah satu momen paling mengharukan datang dari Tuti (48), ibu dari santriwai bernama Gina. Ia tak kuasa menyembunyikan kebahagiaannya ketika sang anak meletakkan mahkota di kepalanya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya tak henti melafalkan doa.
“Saya senang, bahagia sekali. Ini adalah harapan setiap orang tua. Semoga ke depan bisa menjadi anak yang lebih baik, lebih taat kepada Allah SWT. dan berguna bagi sesama,” ujar Tuti.
Selain itu, Efrianda bersama tokoh agama, Kepala Desa Sungkap, Bhabinkamtibmas melakukan penilaian lomba hias telur seroja yang dilanjutkan dengan pemberian piala pemenangnya..
