Penulis menilai persoalannya terletak pada lemahnya implementasi dan pengawasan. Regulasi yang baik di atas kertas sering tidak diikuti dengan tindakan tegas di lapangan.

Masyarakat lokal yang terdesak kebutuhan ekonomi kadang tidak punya banyak pilihan selain menjual telur atau menangkap Tuntong Laut. Pedagang yang membeli pun memanfaatkan lemahnya penegakan hukum. Akibatnya, konservasi menjadi seperti slogan tanpa makna yang kuat.

Selain itu, pendekatan konservasi selama ini terkadang terlalu fokus pada aspek teknis— misalnya hanya pada penangkaran atau pelepasan tukik—tanpa memperbaiki akar masalah sosial-ekonomi.

Kalau masyarakat lokal masih miskin, tanpa sumber pendapatan alternatif, maka pelarangan semata hanya akan mendorong aktivitas ilegal ke jalur yang lebih tersembunyi. Hal ini justru membuat pengawasan lebih sulit dan populasi Tuntong Laut terus terancam.

Menurut penulis, sudah saatnya kita memikirkan konservasi Tuntong Laut dengan pendekatan yang lebih holistik. Mari kita bersama-sama mendorong perubahan!

Pertama, pemerintah daerah perlu serius menegakkan hukum. Bukan hanya membuat aturan, tetapi juga membangun sistem pengawasan yang melibatkan masyarakat. Misalnya dengan patroli komunitas, sistem pelaporan cepat, atau insentif bagi masyarakat yang membantu mencegah perburuan liar.

Baca Juga  Tantangan dan Harapan Generasi Muda dalam Mewujudkan Indonesia Emas

Kedua, perlu ada program pemberdayaan ekonomi alternatif yang konkret. Konservasi tidak akan berhasil jika tidak memberikan manfaat bagi masyarakat. Contoh yang bisa dikembangkan adalah ekowisata berbasis konservasi, di mana masyarakat dilatih menjadi pemandu atau pengelola wisata edukasi tentang Tuntong Laut. Dengan cara ini, nilai ekonomi tidak lagi berasal dari menjual telur, tetapi dari menjaga satwa tersebut tetap hidup di alam.

Ketiga, penting juga untuk memulihkan habitat alaminya. Sungai dan pesisir yang rusak harus direstorasi. Penanaman kembali vegetasi riparian (tepi sungai) dan bakau dapat membantu menstabilkan habitat. Kebijakan tata ruang juga harus tegas melindungi zona-zona penting bagi siklus hidup Tuntong Laut. Jika habitatnya musnah, upaya penangkaran atau pelepasan tukik hanya akan berakhir sia-sia.

Baca Juga  Kampung Literasi, Batu Bata Fondasi Kabupaten Literasi

Keempat, pendidikan lingkungan perlu ditingkatkan, khususnya di sekolah dan kampus. Mari kita bangun generasi muda yang peduli pada lingkungan! Generasi muda harus tahu bahwa Tuntong Laut bukan hanya “kura-kura biasa” tetapi satwa vertebrata penting yang menjadi warisan alam Bangka Belitung.

Kampus juga memiliki peran penting dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, seperti mengembangkan teknologi penangkaran yang lebih baik, survei populasi, hingga advokasi kebijakan berbasis data ilmiah.

Sebagai mahasiswa, penulis percaya kita tidak boleh hanya menuntut pemerintah atau organisasi lingkungan. Kita sendiri bisa menjadi agen perubahan. Kampus bisa membentuk kelompok peduli satwa liar, melakukan kampanye edukasi di desa-desa, membantu program pelepasan tukik, atau membuat konten kreatif di media sosial untuk meningkatkan kesadaran publik. Mari kita mulai dari hal-hal kecil, karena perubahan besar dimulai dari langkah pertama.

Di tengah berbagai ancaman, saya masih optimistis bahwa nasib Tuntong Laut di Bangka Belitung bisa diselamatkan. Tetapi itu hanya mungkin kalau kita mau jujur melihat dilema konservasi versus komoditas. Kalau kita hanya mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek, maka tak lama lagi spesies ini mungkin hanya bisa kita lihat di buku atau museum. Sebaliknya, jika kita berkomitmen pada konservasi berkelanjutan, maka kita bisa mewariskan ekosistem sungai yang sehat dan kaya keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang.

Baca Juga  Sambut HUT Brimob Ke 77, Ratusan Personel Brimobda Babel Sumbang Darah

Akhir kata, saya ingin menegaskan bahwa konservasi bukan tentang melawan masyarakat, tetapi tentang mengajak mereka untuk menjadi bagian dari solusi. Tuntong Laut bukan sekadar satwa vertebrata yang eksotis atau langka, tetapi simbol pilihan kita sebagai manusia: apakah kita ingin menjadi perusak atau penjaga kehidupan? Mari kita memilih untuk menjaga. Saatnya kita bersatu, bergerak, dan berkomitmen untuk menyelamatkan Tuntong Laut demi masa depan Bangka Belitung yang lebih baik!

Nurun Aini – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung