Derita Lingkungan di Tengah Gemerlap Timah Bangka Belitung
Apabila air kolong digunakan dalam jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit seperti kerusakan saraf, kerusakan gigi, meningkatkan resiko kanker bahkan dapat merusak ginjal dan hati. Oleh sebab itu, agar air kolong dapat digunakan dengan aman perlu dilakukan fitoremediasi atau perlakuan khusus lainnya untuk mengurangi kadar logam dan menaikkan pH.
Untuk keberadaan timah yang berada di bawah permukaan laut Indonesia memiliki luas 2/3 bagian, sehingga banyak laut di Bangka yang sudah rusak akibat pertambangan.
Kegiatan pertambangan ini berdampak buruk bagi kesehatan terumbu karang yang mulai mengalami pemutihan, kemudian hasil tangkapan nelayan yang semakin menurun, kondisi air laut berubah keruh, keberadaan hutan mangrove turut terancam sehingga menyebabkan abrasi.
Konflik antar Masyarakat sering dipicu oleh pertambangan di laut ketimbang di daratan. Permassalahan ini disebabkan, banyak masyarakat bangka Belitung yang bekerja sebagai nelayan, apabila laut mengalami penambangan secara masal bagaimana dengan para nelayan menyambung hidupnya.
Pertambangan di laut sangat perlu dievaluasi dan diperketat agar tidak terjadi konflik. Selain itu, pariwisata di bangka Belitung juga sudah mulai dikenal masyarakat luas, jangan karena kaya sehari membuat penderitaan berkelanjutan bagi masyrakat luas. Sekarang penambangan timah di laut semakin marak terjadi karena semakin sulitnya mencari keberadan timah di darat.
Dahulu keberadaan timah yang melimpah membuat masyarakat memiliki perekonomian yang stabil, namun seiring berjalannya waktu keberadaan timah yang merupakan mineral tak dapat diperbaharui semakin menurun membuat ekonomi babel sekarang dilapangan mengalami kesulitan, walaupun pada kenyataan datanya surplus.
Selain keberadaannya yang sulit, harga timah di pasar lokal juga menurun dan sulit dijual. Adanya kasus korupsi yang melibatkan PT. Timah Tbk dan penangkapan Aon membuat kondisi pertambangan timah saat ini sulit menjual hasil, meskipun demikian, tetap kegiatan pertambangan tidak berhenti, bahkan banyak beralih dari darat ke daerah laut.
Terkadang pertambangan laut ini tak hanya dilakukan masyarakat lokal bangka, tetapi didominasi oleh masyarakat luar Bangka. Saat ini peran pemerintah sangat dibutuhkan mengendalikan kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan, diharapkan pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang lainnya untuk masyarakat beralih secara perlahan dari pekerjaan sebagai penambang.
Lalu, pembinaan terhadap anak muda yang berada dilingkungan terdampak juga penting untuk melakukan pengelolaan lahan pasca tambang yang disupport pemerintah dengan dijadikan tempat wisata maupun pertanian dengan melakukan treatmen tertentu atau remediasi yang berfungsi menurunkan logam berat sehingga hasil dari pertanian aman dikonsumsi.
Remediasi ini dapat melibatkan aktivis lingkungan ataupun mahasiswa yang mengerti tentang pengelolaan lahan maupun air pasca tambang serta memonitoringnya.
Pemerintah juga diharapkan untuk tegas terhadap pendatang yang ingin melakukan kegiatan penambangan di Kepulauan Bangka Belitung agar tidak terjadi dampak kerusakan lingkungan yang berkelanjutan dan lebih parah lagi.
Kesadaran masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk lebih menyayangi lingkungan agar lahan yang telah direklamasi tidak dijadikan lahan untun penambangan lagi dikemudian hari.
