Himaserda Unmuh Babel dan Siswa SMPM Muhammadiyah Pangkalpinang Tanam 50 Bibit Matoa di Bukit Tahura Mangkol
Senada dengan Giva, Randi Syafutra, S.Si., M.Si., selaku dosen pembina Himaserda Unmuh Babel menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari proses pembelajaran transformatif.
“Penanaman ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi juga menanam nilai-nilai kepedulian, tanggung jawab, dan semangat ecopreneurship dalam diri siswa. Kita ingin menciptakan generasi yang tidak hanya peka terhadap isu lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan solusi inovatif berbasis potensi lokal yang berkelanjutan,” ujar Randi.
Lebih lanjut, Ketua Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam (Prodi KSDA) Unmuh Babel, Sujadi Priyansah, S.Hut., M.Sc., menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting untuk menghubungkan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik langsung di lapangan.
“Kami mendukung penuh kegiatan Himaserda ini sebagai bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa sekaligus kontribusi nyata terhadap masyarakat dan alam. Program ini juga menjadi bentuk pengabdian yang bermakna, karena mengedukasi siswa-siswi SMP tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati sejak dini,” jelas Sujadi.
Sebagai catatan, kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan pertama yang telah dilaksanakan pada Rabu, 21 Mei 2025 di SMP Muhammadiyah Pangkalpinang. Pada kegiatan tersebut, Himaserda Unmuh Babel menggelar sosialisasi dan edukasi tentang kepedulian lingkungan serta semangat ecopreneurship kepada para siswa melalui berbagai metode interaktif.
Melalui kegiatan berkelanjutan ini, Himaserda Unmuh Babel berkomitmen untuk terus menyemai kesadaran ekologis dan memberdayakan generasi muda agar menjadi agen perubahan di komunitasnya. Penanaman 50 bibit pohon matoa ini tidak hanya menjadi kegiatan simbolis, tetapi juga tonggak penting dalam membangun sinergi antara pendidikan, konservasi, dan penguatan kapasitas siswa sebagai calon pemimpin masa depan yang ramah lingkungan.
Dengan hujan sebagai saksi, dan bumi sebagai ladang amal, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap pohon yang ditanam adalah investasi bagi kehidupan yang lebih lestari.
Dan bagi para siswa yang terlibat, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan ke hutan—melainkan pelajaran hidup tentang cinta pada alam, tanggung jawab sosial, dan semangat untuk terus tumbuh bersama bumi.
