KKN: Antara Pengabdian atau Formalitas Belaka?
Masyarakat seringkali dijadikan “tempat praktik”, bukan mitra yang diajak membangun solusi bersama. Tidak ada pendekatan berbasis data, tidak ada pelibatan warga dalam perencanaan program, dan nyaris tidak ada keberlanjutan setelah KKN usai.
Saatnya KKN Direformasi
Jika ingin mempertahankan KKN, maka harus dilakukan perombakan total:
KKN harus berbasis riset kebutuhan lokal, bukan program asal jadi.
Mahasiswa perlu dilatih agar mampu berkolaborasi lintas jurusan dan membangun komunikasi sosial yang baik.
Kampus harus meningkatkan kualitas pembimbing lapangan agar lebih aktif dan berperan.
Evaluasi KKN seharusnya tidak hanya pada administrasi, tetapi pada dampak riil di masyarakat.
Atau, Hentikan Saja
Jika tidak mampu direformasi, mungkin sudah waktunya KKN diganti dengan bentuk pengabdian lain yang lebih fleksibel dan berdampak: seperti magang sosial, riset komunitas, atau proyek pengabdian berbasis kompetensi.
Karena masyarakat tidak butuh mahasiswa pembawa spanduk dan kamera dokumentasi.
Mereka butuh teman belajar, pendamping yang mendengar, dan mitra yang sungguh-sungguh hadir.
Jadi, kita harus bertanya:
Apakah kita benar-benar ingin mengabdi, atau hanya sekadar menyelesaikan kewajiban?
Karena selama KKN masih dijalankan setengah hati, kita bukan sedang membangun bangsa — kita hanya sedang memperpanjang kebiasaan berpura-pura.
