Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 9)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Sore hari di Makkah, langit cerah, dan debu-debu padang pasir masih beterbangan pelan di sekitar Ka’bah. Di bawah bayang-bayang Ka’bah, para tokoh Quraisy duduk bersila di atas permadani, membicarakan urusan penting masyarakat. Di antara mereka, seorang bocah kecil terlihat duduk tenang. Ia tidak berkata-kata. Hanya mengamati. Tapi dari matanya, tampak jelas bahwa ia menyerap segalanya.

Bocah itu adalah Muhammad kecil, duduk di permadani milik kakeknya, Abdul Muththalib, pemimpin suku Quraisy yang disegani. Posisi itu bukan sekadar duduk biasa. Permadani itu adalah tempat musyawarah, tempat para lelaki dewasa menyelesaikan konflik, menimbang masalah, dan mengambil keputusan besar.

Baca Juga  Sedekah Kampung

Ketika para paman mencoba menyingkirkan Muhammad kecil karena menganggapnya belum pantas duduk di sana, Abdul Muththalib justru berkata: “Biarkan dia, anak ini kelak akan menjadi orang besar.” (Hal ini dinukil dalam berbagai kitab sirah, seperti Sirah Ibnu Hisyam dan Ar-Rahiq al-Makhtum)

Kalimat itu bukan sekadar firasat. Ia adalah bentuk penghormatan dan pengakuan atas potensi cucunya. Lebih dari itu, ia adalah contoh bagaimana seorang tokoh dewasa membuka ruang bagi anak untuk melihat, merasakan, dan belajar langsung dari kehidupan nyata.

Learning by Seeing & Experiencing

Anak-anak belajar kepemimpinan bukan hanya dari buku atau nasihat. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan alami langsung. Rasulullah SAW kecil dibesarkan dalam lingkungan yang mempertemukannya dengan realitas sosial sejak dini. Ia tidak disembunyikan dari diskusi orang dewasa. Ia justru dilibatkan secara emosional dan sosial dalam proses kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Diasingkan untuk Menjadi yang Terbaik

Pengalaman duduk di forum Ka’bah adalah contoh early exposure yang sangat mendalam. Ia belajar mendengarkan, memahami konflik, melihat bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana seorang pemimpin bersikap. Ini adalah proses pembentukan social intelligence dan leadership yang berlangsung alami dan penuh makna.