Nasib Pilkada Bangka
Pilkada tidak saja menguras anggaran pemerintah daerah, tapi juga menguras pikiran, tenaga serta ketenangan masyarakat dalam menapaki hidup sehari-hari.
Kita sudah capek, lelah disuguhi drama berseri dengan tema itu itu saja, tanpa ending cerita yang jelas. Masyarakat terus menerus dijejali narasi-narasi perubahan kedepan lebih baik. Kedepan lebih sejahtera dan memberi angin segar kemajuan daerah ini diujung mimpi.
Bahkan gara-gara pilkada, masyarakat juga sangat dirugikan dengan tidak digelarnya pawai, karnaval hari kemerdekaan RI.
Momen yang ditunggu tunggu sirna. Kemeriahan hari kemerdekaan bangsa kita, seharusnya milik masyarakat, tergeser. Pilkada seperti monster menakutkan bagi pemutus kebijakan petinggi petinggi daerah ini. Takut ada keributan, takut ditumpangi kampanye, takut dan takut. Wis ora ngerti karepemu opo? Merdeka Bung!
Sementara tren pergerakan calon serta timsesnya, dalam kampanye, rata-rata cenderung kurang membaca bahasa masyarakat. Bahkan ASN pun teriak! Gara gara pilkada ulang, anggaran kesedot, TPP melayang. Kita tidak tahu apakah, mereka masih serius bekerja melayani masyarakat? Lalu apakah masyarakat juga masih konsisten bersemangat menuju TPS untuk memilih, mencoblos calon bupati dan calon wakil bupati? Semua berpulang pada strategi penyelenggara yang sudah kepanikan dalam bergerak dengan serentetan persoalan yang dihadapi.
Ironisnya ada angin liar berhembus seperti membisikan rencana besar di balik pemilihan kepala daerah ulang Bangka. Rentetan peristiwa muncul dari awal.
Terganjal incumben tidak dapat kendaraan. Kemudian partai-partai besar mengusung beberapa calon bukan murni kader partai. Mungkin dari calon yang maju hanya dua calon kader murni, dari partai pengusung.
Sungguh memperihatinkan mencermati pergerakan partai-partai besar, gagal mengkaderkan kadernya memimpin daerah ini. Di sisi lain pihak penyelenggara seperti kewalahan, bergerak. Fakta yang muncul, dalam bekerja tidak fokus menjalankan perannya. Lebih condong menyelesaikan kasus kasus sengketa pilkada.
Kita tidak tahu seperti apa pilkada ulang Bangka? Menggembirakan? Menyedihkan? Atau akan berkepanjangan, sampai ke MK?
Dari pada pusing, lebih baik makan nasi padang sembari mendengar lagu Gong 2000, ‘Menanti Kejujuran’ Achmad Albar. Lari dan lepaslah segala impian/Akan indahnya hari depan/Nikmatnya kedamaian yang kudambakan masih tetap impian/
Semoga kejujuran nyata dan kedamaian bukan impian. Semoga. (*)
