Oleh: Hendi Hendra Bayu — Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Sungai adalah ekosistem alami berupa tubuh air yang mengalir dan menjadi bagian penting dalam siklus hidrologi.

Secara definisi, sungai merupakan titik kumpul air hujan yang membentuk alur dan jaringan aliran dari hulu hingga hilir, dibatasi oleh sempadan sebagai batas antara tubuh air dan daratan.

Sungai memberikan kehidupan serta berbagai manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya, terutama manusia yang sangat bergantung pada keberadaan dan fungsinya.

Sejarah membuktikan, pusat-pusat pemerintahan dan permukiman selalu erat kaitannya dengan keberadaan sungai. Salah satu contohnya adalah situs Kota Kapur, yang pada masa Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat aktivitas, permukiman, dan pemerintahan.

Baca Juga  Pastikan Perayaan Malam Imlek Kondusif, Kapolda Babel Tinjau 2 Kelenteng

Namun, kondisi sungai di Pulau Bangka Belitung saat ini mengalami penurunan fungsi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini terlihat pada sungai-sungai besar di Daerah Aliran Sungai (DAS) Baturusa dan Cerucuk.

Apabila kerusakan ini terus berlangsung akibat eksploitasi berlebihan tanpa memperhatikan kaidah lingkungan, peran sungai sebagai ekosistem perairan akan semakin terdegradasi.

Perubahan dan alih fungsi lahan akibat pertambahan populasi manusia turut memperburuk keadaan.

Ketersediaan air bersih menurun, pencemaran meningkat akibat limbah rumah tangga dan sampah, volume air melonjak saat musim hujan namun merosot tajam saat kemarau, dan sedimen sungai kian menumpuk. Semua ini menjadi indikator menurunnya kualitas dan kuantitas air di Bangka Belitung.

Baca Juga  "Menang Segek, Kalah Pancak"

Kerusakan di wilayah hulu sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Penebangan hutan untuk pembukaan lahan perkebunan dan aktivitas pertambangan meningkatkan aliran permukaan, mengurangi biodiversitas, memperparah sedimentasi, dan memicu konflik antara manusia dan satwa liar.