Pengilen
Warga kampung yang berada di pos ronda terdiam. Tidak ada yang menjawab. Seketika hening menghampiri pos ronda.
***
Di sebuah rumah yang terletak di ujung Kampung, sekelompok orang sedang berkumpul. Mereka berdiskusi dengan sangat serius. Suara mereka lantang. Bahkan terdengar perdebatan diantara sesama mereka.
Sinar rembulan malam mulai menuruni langit. “Siapapun yang mengkritisi kinerja kepala kampung, harus kita lawan. Harus kita serang. Jangan kasih kesempatan dan ruang bagi mereka, warga kampung ini untuk mengkritisi kebijakan pak kepala kampung,” pinta seorang warga kampung yang dikenal sebagai loyalis kepala kampung.
“Walaupun kritik yang disampaikan warga kampung itu fakta?” tanya seseorang dari mereka.
“Iya. Kita jangan memberikan ruang sejengkal pun kepada warga kampung untuk bersuara menyampaikan kritik kepada pimpinan kampung kita ini,” sahut loyalis kepala kampung dengan suara lantang.
Suara lantang loyalis kepala kampung menakutkan cecak yang sedang merayap di plafon rumah. Menakutkan anjing hutan yang sedang mencari mangsa di dekat hutan kecil tak jauh dari rumah mereka berkumpul.
Bagi warga kampung, kaum loyalis kepala kampung itu dikenal dengan sebutan pengilen.
Mereka secara berkerumun menghantam warga kampung yang mengkritisi kebijakan pak kepala kampung. Terutama di media sosial.
Komentar kelompok loyalis kepala kampung ini sangat sadis dengan bahasa yang kejam. Bahkan terkadang amat vulgar diksi yang mereka tulis.
“Kalau pak kepala kampung masih berkuasa, kita tidak susah,” ungkap seorang loyalis kepala kampung.
“Itu aku setuju. Cuma persoalannya, pak kepala kampung kita itukan kekuasaannya terbatas. Ada durasi waktunya. Tidak bisa berkuasa seumur hidup, Sementara kita ini sudah distempel sebagai loyalis beliau,” keluh seorang loyalis kepala kampung lainnya.
” Betul kawan. kalau pak kepala kampung kita tidak berkuasa lagi, masih mungkinkah kita-kita ini menjadi pembela beliau? Kita ini membela pak kepala kampung karena mendapatkan sesuatu,” ungkap loyalis kepala kampung yang lainnya.
Semua terdiam. Mulut mereka terkunci.
Markudut merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ada sebuah keganjilan yang dirasakannya.
Kritik keras yang dilancarkannya kepada kepala kampung di koran tentang pembangunan sebuah posyandu tidak mendapat respons dari para loyalis kepala kampung.
Tidak ada respons negatif yang diterimanya lewat media sosialnya. Bahkan yang teramat membingungkannya, semua nitizen yang berkomentar di kolom komentar media sosialnya, justru mendukungnya.
Memberikan apresiasi yang tinggi untuk kritiknya kepada kepala kampung. Sesuatu yang belum pernah diterimanya selama menjadi kritikus kepala kampung.
“Mungkin mereka, kaum pengilen kepala kampung sudah sadar diri,” ungkap seorang warga kampung.
“Iya. Mereka paham bahwa jabatan kepala kampung yang mereka bela tidak seumur hidup. Ada batas waktunya,” ujar warga yang lainnya.
“Bisa-bisa, mereka memang sudah tidak menjadi pengilen lagi, karena jobnya sudah selesai,” sambung warga kampung lainnya dengan diiringi derai tawa para warga kampung.
Di program Breaking News sebuah televisi berita, seorang reporter televisi melaporkan penangkapan seorang anggota tim relawan mantan seorang presiden oleh aparat keamanan.
Terlihat dalam gambar di televisi, mantan relawan presiden itu dibawa ke sebuah rumah tahanan dengan tangan terborgol.
Toboali, Agustus 2025
Catatan: Pengilen (bahasa Toboali): Pembela
Iyek Aghnia adalah penulis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali Bangka Selatan.
