“Guru BK dan kawan-kawan didampingi Wakil Kesiswaan dan Pembina OSIS langsung bertindak secepatnya. Kami memanggil anak-anak yang bertikai di ruangan BK. Di situ kami investigasi, menggali informasi yang terjadi serta menghubungi orang tua,” ujar Kasni.

Semua pihak dihadirkan guna memberi klarifikasi dan penyelesaian masalah. Namun yang terjadi, orang tua hadir di waktu yang tidak bersamaan sehingga persoalan tidak bisa diselesaikan secara cepat. Karena itu diselesaikan persoalannya pada jam 17.30 Wib.

Hasil mediasi mengerucut keputusan akan dilakukan penggalian informasi yang lebih akurat. Bagaimana pokok persoalan, apakah termasuk bullying atau hanya perkelahian. Karena ada perbedaan antara dua kasus ini. Sebab bullying dilakukan kepada satu orang.

Baca Juga  Pemkab Bangka Barat Salurkan Dana Bantuan Keuangan Rp1,4 Miliar untuk 10 Parpol

Namun kalau perkelahian terjadi aksi balasan. Dengan begitu, kedua pelajar ini berstatus sebagai korban dan pelaku. Dengan langkah-langkah upaya yang dilakukan, pihak sekolah merasa telah semaksimal mungkin agar hal ini bisa diselesaikan secara damai.

“Jadi orang tua dan anak-anak ini telah saling memaafkan. Namun sebagai catatan, pesan dari sekolah apabila dibutuhkan pengobatan yang diduga menjadi korban. Itu maka perlu saling membantu biaya pengobatannya,” ujar Kepala SMPN 2 Mentok, Kasni.