Berhenti Sekolah dan Pilih Jadi Nelayan, Remaja Pesisir di Pongok Jadi Topik Riset Tim KLK UBB
Pada Kamis, 7 Agustus 2025 kegiatan pengambilan data dan wawancara informan yang dilakukan tim riset didampingi oleh perangkat Desa Pongok dan Desa Celagen. “Beberapa anak-anak di Desa Celagen memang ada yang putus sekolah dan bekerja sebagai nelayan serta buruh pengelola ikan, bahkan ada orang tua mereka yang mampu menyekolahkan tetapi anak tersebut lebih memilih bekerja dan mendapatkan uang,” ujar Alpian, S.Sos sekretaris Desa Celagen.
Guru sosiologi SMA Negeri 1 Pongok Wiwik juga menyampaikan bahwa “Di Desa Pongok ada juga yang putus sekolah yang disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adanya perjodohan usia dini sehingga mereka terpaksa bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya”.
Sementara itu Berlian Birly Aeywaldy dan Tim Riset KLK UBB mengungkapkan dari kegiatan riset ini mereka bisa menemukan alasan lain dari anak-anak remaja yang tidak melanjutkan pendidikan bukan hanya karena faktor ekonomi saja. Tetapi, ada hal yang melatarbelakangi mereka untuk berhenti sekolah yaitu karena pengaruh lingkungan tempat tinggal mereka dan juga kemauan dari diri mereka sendiri.
Tim riset UBB berharap dengan adanya penelitian ini dapat menambahkan kebaharuan mengenai alasan-alasan mengapa anak remaja di wilayah pesisir lebih memilih untuk bekerja dan memustuskan untuk putus sekolah. Sehingga hasil riset yang dilakukan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi Desa Pongok dan Desa Celagen, khususnya dalam mengungkap realitas sosial yang selama ini belum banyak disorot, yaitu fenomena anak usia remaja yang memilih berhenti sekolah dan langsung bekerja.
Temuan ini tidak hanya mengidentifikasi faktor ekonomi sebagai penyebab utama, tetapi juga menyoroti pengaruh lingkungan sosial, budaya kerja masyarakat pesisir, hingga praktik perjodohan dini yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka putus sekolah. D
engan data yang dikumpulkan secara langsung melalui wawancara dan observasi lapangan, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan bagi pemerintah desa, sekolah, dan pihak terkait dalam menyusun kebijakan intervensi sosial yang tepat sasaran. (Penulis: Berlian Birly Aeywaldy, Tania Januarti, Anis, Shakira Mahendra Putri, Amirah Tsania Khansa)
