RRI: Dari Gelombang Udara ke Gelombang Digital, Dari Monolog ke Dialog

Oleh: Yan Megawandi — Mantan Reporter dan Penyiar RRI Persiapan Sungailiat

Bayangkan di sebuah pagi di tahun 1945. Terdengar suara serak namun penuh keyakinan menembus statik radio, mengumumkan sebuah bangsa yang baru saja lahir. Itulah suara RRI.

Suara yang menyatukan, mengobarkan semangat, dan menjadi saksi bisu denyut nadi Indonesia. Radio itu dulu bukan sekadar kotak elektronik; ia adalah jantung harapan, perapian di ruang keluarga, tempat segala kabar berkumpul.

Masih lekat diingatan. Pada malam malam tertentu kami sekeluarga mematikan sejumlah lampu di rumah. Radio tabung menyedot cukup banyak aliran listrik di rumah kami yang tak cukup kuat menampungnya bila tak mematikan beberapa lampu.

Dalam temaram malam suara penyiar melaporkan bagaimana pahlawan-pahlawan bulutangkis Indonesia bertanding dan menumbangkan jago-jago dunia di pelataran kejuaraan All England di Inggris.

Rudy Hartono sang legenda bulutangkis bersama Christian Hadinata dan Ade Chandra seakan-akan ada dan hadir di depan mata dalam siaran langsung yang disampaikan dengan gegap gempita. Di radio tabung ruang tengah keluarga.

Baca Juga  Pemain Cadangan

Di malam yang lain kami sekeluarga mendengarkan Bersama babak final lomba menyanyi. Acaranya Bintang Radio. Belakangan menjadi Bintang Radio dan Televisi.

Kami sekeluarga kembali merasakan ikut hadir di ruang studio RRI serasa ikut menjadi juri yang mendengarkan dan ikut menilai penampilan para calon bintang tarik suara itu tampil. Ada suara Harvey Maleholo, Sandro Tobing atau suara merdu bintang kebanggaan dari Bangka Belitung, Rafika duri.

Namun tanpa terasa begitu cepatnya kita melompat ke hari ini. Di mana suara itu sekarang? Mengapa ia seakan tenggelam dalam gemuruh dan berseliwerannya feed di media sosial.

Alunan lagu yang dulu dinanti-nanti di berenang dan hampir tenggelam lautan playlist Spotify, dan hiruk-pikuk podcast yang menawarkan segala hal. RRI, dengan segala jasa dan sejarahnya, seolah terdiam di persimpangan zaman. Sebuah institusi legendaris yang seakan-akan bertanya: masih adakah tempat bagiku?

Berbicara mengenai RRI bukanlah hanya tentang teknologi canggih. Ia tentang kepercayaan. Di era dimana informasi bergerak secepat saat ini yang sudah seperti anak panah terlepas dari busurnya, RRI adalah sumber yang tak tergoyahkan. Penyiar-penyiarnya bukan selebritas, mereka adalah suara yang akrab, seperti anggota keluarga yang tak pernah kita lihat wajahnya.

Baca Juga  CSR Solusi Anggaran?

Mereka membacakan berita kemenangan, kabar duka, harga cabe keriting dan bawang merah hingga siaran pileg dan pilkada yang membuat kita tertidur pulas. Tapi itu adalah bagian dari ritual. RRI adalah semacam latar belakang suara dari sebuah bangsa yang membangun. Ia adalah soundtrack Indonesia.

Terjepit di Antara Nostalgia dan Tuntutan Algorithm

Lantas, apa yang terjadi? Dunia berubah lebih cepat dari yang bisa dibayangkan. RRI, seperti banyak kejadian yang melanda para raksasa lama, terjebak dalam bayang-bayang kejayaannya sendiri. Generasi yang dulu setia mendengarkan kini menua. Sementara generasi baru, Generasi Z dan Milenial, bertanya: ” Emang gua pikirin”

Mereka kini punya pilihan yang tak terbatas. Anak-anak mud aitu sekarang bisa mendengarkan podcast tentang startup, menonton vlog tentang isu lingkungan, atau sekadar mendengarkan lagu-lagu di daftar playlist berdasarkan mood mereka. Di tengah banjirnya opsi ini, positioning RRI menjadi kabur. Apakah ia masih menjadi corong negara? Lembaga penyiar publik? Atau sekadar museum audio yang masih aktif siar?

Baca Juga  Merenungi Arah Pendidikan Kita

Masalahnya bukan di jaringannya saja. RRI masih punya jaringan pemancar yang luas hingga ke pelosok. Bukan juga di SDM-nya saja karena cukup banyak di antaranya pegawainya adalah profesional yang kompeten. Masalahnya ada di mindset. Strategi “siar seperti biasa” sudah tak lagi memadai. Memindahkan siaran analog ke streaming online bukanlah strategi digital; itu hanya mengganti medium, bukan substansi.

Lalu, apakah cerita RRI berakhir di sini? Semestinya tidak. Justru di era banjir informasi dan kabar bohong inilah, suara yang kredibel dan terpercaya menjadi komoditas yang paling langka. RRI bisa menjadi penjaga itu. Modal sosialnya, sejarahnya, dan jaringannya adalah harta karun yang tidak dimiliki platform digital manapun. Dengan ini seharusnya RRI masih bisa bersaing dan menjadi pesaing tangguh.

Tapi, ia harus berani berubah. Bukan dengan menanggalkan jati dirinya, tetapi dengan mengemasnya dalam bungkus baru yang lebih menggoda. Mirip gadis desa yang tampil elegan namun terjaga dalam bingkai etika nan gemulai.