Tersesat di Makam Keramat
Aku tersentak kaget lalu berdiri.
“Ada anjing,” sontak mulutku berkata kepada Umar dan Safar.
Spontan Umar menatapku.
“Dimana anjingnya?” tanya Umar.
Aku menoleh ke samping kiri sambil mengarahkan telunjukku.
Namun anjing itu hilang tak nampak lagi.
Padahal tadi baru saja berdiri tepat di samping ku.
“Hah…tadi di sini. Alangkah secepat itu ia pergi tanpa meninggalkan jejak atau pun suara,” jawabku.
“Kemana arah kepala anjing itu,” sambung Umar.
Aku menunjukkan jari ke arah hutan di belakang ku.
Suara kera kera itu seakan memanggil untuk menghampiri nya.
“Kita terobos hutan itu,” kata Umar.
Ia melangkah dan mengibaskan tangannya ke arah dahan dahan kayu dan dedaunan yang merintangi jalan kami.
Tak sampai lima meter kami melangkah menerobos hutan terlihat jelas dua buah makam yang bersih tanpa ada selembar daun yang jatuh di area makam.
Makam itu tepat berada di bawah pohon rindang dan tepat di tepi sungai.
Kami serta merta duduk bersila dan mulai melafazkan doa doa yang biasa kami lafazkan saat berziarah ke makam makam.
Setelah selesai berdoa, kami pun berlalu pulang dengan mengikuti jalan setapak.
Jalan itu telah di tumbuhi rerumputan dan di penuhi ranting ranting kering.
Melalui mimpi dijelaskan, makam yang semula di perbincangkan oleh warga kampung ada dua, hanya satu yang memang makam asli.
Satu lagi hanya nya sebuah makam kosong untuk mengelabui warga setempat.
Entah siapa yang pertama kali menemukan makam tersebut hingga kini masih menjadi misteri yang tak pernah terpublikasi kepada khalayak ramai.
Walahualam bissawaf, tiada yang tak mungkin jika Allah berkehendak atas segala sesuatu.
