Konsistensi dalam Nilai Sejak Muda
Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 17)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Jika ditanya apa rahasia kekuatan seorang pemimpin besar, maka jawabannya tidak selalu pada kehebatan bicara atau strategi yang luar biasa. Sering kali, kunci itu tersembunyi dalam satu kata. Konsistensi.
Sejak usia muda, Nabi Muhammad ﷺ telah menunjukkan konsistensi luar biasa dalam menjaga nilai dan prinsip hidup yang luhur. Di tengah masyarakat Makkah yang dipenuhi budaya menyembah berhala, mabuk-mabukan, berjudi, dan percaya pada ramalan, beliau tumbuh sebagai pribadi yang berbeda—bukan karena keterpaksaan, tapi karena pilihan sadar.
Di Tengah Kegelapan, Satu Cahaya Menyala
Masyarakat Arab pra-Islam sangat erat dengan praktik jahiliyah. Arak menjadi minuman biasa di pesta-pesta. Berhala menjadi simbol spiritualitas, bahkan untuk urusan remeh seperti mencari arah bepergian atau menjawab masalah jodoh, mereka menggunakan azlam (undian nasib).
Namun, Muhammad muda tidak tergoda untuk ikut arus. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau tidak pernah menyentuh satu pun dari praktik itu. “Aku tidak pernah berniat untuk melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh kaumku dalam masa jahiliah, kecuali dua kali. Namun setiap kali aku berniat, Allah menghalangiku.” (Ibnu Hisham, Sirah Nabawiyah, 1/184)
Riwayat ini merujuk pada kejadian saat beliau pernah ingin melihat hiburan di pesta pernikahan, namun tertidur sebelum sampai. Dua kali itu terjadi, dan dua-duanya berakhir dengan beliau tertidur pulas hingga pagi. Allah menjaga beliau.
Tidak ada satu pun kisah yang menyebut Nabi Muhammad ﷺ minum arak, menyembah berhala, berjudi, atau percaya ramalan. Bahkan dalam soal nama, beliau tidak pernah mengucap nama-nama berhala saat bersumpah.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ini adalah bentuk penjagaan Allah karena Nabi memiliki fitrah yang bersih dan bimbingan khusus sejak kecil. “Rasulullah tidak pernah sekalipun menyentuh berhala, tidak makan dari makanan persembahan untuk berhala, dan tidak pernah bersumpah atas nama mereka.” (Ibn Hajar, Fath al-Bari, 7/204).
