“Maaf Pak, Bulog sudah membeli gabah dari Bangka Selatan. Sesuai dengan kebijakan nasional pembelian hanya 3 juta gabah, Pak” terang Fahmi lagi.

“Tapi ini solusinya bagaimana, yang nampung siapa (gabah di Rias-red)?” tanya gubernur lagi.

“Tadi kami sudah zoom dengan pusat Pak, nanti Senin ada kebijakan pusat, Pak,” jawab Fahmi.

“Iya nanti Senin, kamu ke tempat saya ya,” potong Hidayat Arsani.

Salah satu petani Desa Rias, Sugianto mengaku bingung menjual gabah lantaran Ferum Bulog Bangka menghentikan pembelian gabah kering.

Pada musim panen IP 200 (penanaman kedua), hasil panen padi di Desa Rias terbilang melimpah.

“Dulu kita senang ketika pusat mengeluarkan kebijakan membeli gabah Rp6.500,- per kilogram,” kata Sugianto.

Baca Juga  Perangkat Desa Kecamatan Lepar Audensi dengan Gubernur, Bahas Penyelesaian Konflik Lahan PT SNS

“Namun dengan kondisi seperti ini, kita terpaksa jual ke tengkulak dengan harga di bawah Bulog, bahkan pembayarannya utang. Ini sangat menyulitkan petani. Harapan kita, Bulog bisa membeli lagi gabah kering kita sehingga produksi padi hingga IP3 tetap lancar,” harap Sugianto.