BPOM juga bekerja sama dengan dinas kesehatan dalam melakukan pelatihan-pelatihan ini sehingga apa risikonya agar tidak terjadi kasus keracunan makanan di daerah, dan cukup hanya satu kali saja kasus ini terjadi di Belitung Timur.

“Pelatihan ke pramusaji sudah kita gelar dan kami punya laboratorium yang lengkap untuk melakukan pengujian terhadap sampel penyebab keracunan itu sendiri dan keracunan di Beltim kemarin itu memang dari agen mikrobiologis, ada bakteri salmonella dari lauk pauknya,” terang Agus.

Ia berharap kasus keracunan dari lauk pauk MBG hanya di Beltim saja dan tidak lagi terjadi di daerah lain sehingga diharapkan semua tim atau juru masak di SPPG dapat memperhatikan kebersihan dan keamanan dari bahan baku hingga proses memasak dan menyajikan.

Baca Juga  Explore Babel Resmi Ditutup, Rommy S.Tamawiwy: Sehati Kite Bangun Bangka Belitung

“Bakteri salmonella itu penyebabnya kurang higienis atau bahan baku yang tidak di jaga kebersihannya, proses atau waktu dan suhu memasak. Saat lauk pauk disajikan dan di santap itu terlalu lama sehingga dapat menimbulkan bakteri. Jadi selain waktu memasak, suhu juga sangat penting diperhatikan,” terang Agus.

Agus menambahkan, makanan yang aman dikonsumsi harus bebas dari tiga macam bahaya cemaran, yakni bahaya fisik seperti ada isi stepless, rambut dan sebagainya.

“Ada juga bahaya kimia, bahan-bahan berbahaya seperti formalin dan borax, juga agen mikrobiologis itu bakteri-bakteri sifatnya infeksi sistem yang bisa menyebabkan keracunan,” tutup Agus.*