Ketua HIMASERDA Unmuh Babel, Armadi Saputra, menilai kegiatan tersebut menjadi wadah mahasiswa untuk berbaur langsung dengan masyarakat.

“Mahasiswa harus hadir memberi dampak. Kami hadir di Pantai Menuang karena kami percaya kolaborasi dengan warga desa akan menghadirkan perubahan nyata. Sampah yang terkumpul hari ini adalah bukti bahwa kerja kecil, bila dilakukan bersama, punya arti besar,” kata mahasiswa semester lima itu.

Kegiatan bersih pantai juga diwarnai dengan edukasi singkat seputar dampak sampah plastik terhadap ekosistem laut. Diskusi ringan dengan masyarakat dilakukan di sela-sela aksi. Dari sana muncul kesepahaman untuk terus melanjutkan kegiatan serupa secara rutin agar kebersihan pantai tetap terjaga.

Randi Syafutra selaku Pembina HIMASERDA Unmuh Babel memberikan pandangan bahwa aksi ini membawa pesan luas bagi semua pihak.

Baca Juga  Simalakama: Pertaruhan Terakhir Kukang Bangka

“Lingkungan yang bersih tidak hanya mempercantik desa, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan wisata. Jika Pantai Menuang dirawat, maka desa punya modal besar untuk berkembang. HIMASERDA siap terus bersinergi dengan pemerintah desa dan komunitas agar semangat ini berlanjut,” ungkapnya.

Momentum clean up di Pantai Menuang akhirnya menjadi ruang temu yang mempererat hubungan mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa. Lebih dari sekadar membersihkan sampah, kegiatan ini menghadirkan optimisme bahwa desa mampu menjaga identitas lingkungannya dengan kekuatan gotong royong. Pantai Menuang kini bukan hanya lebih bersih, tetapi juga lebih berarti sebagai simbol kolaborasi warga untuk bumi yang lestari.