Jalan Pulang ke Jati Diri

Kita harus berani balik arah. Lada dan karet bukan sekadar komoditas; keduanya adalah fondasi sejarah, simbol budaya, sekaligus pilar ekonomi berkelanjutan.

Revitalisasi lada menuntut langkah nyata:

Rakyat: perlindungan harga, pasar yang jelas, bibit unggul.

Negara: insentif, riset, pembenahan distribusi pupuk, penertiban mafia perdagangan.

Pasar: membangun kembali brand global Muntok White Pepper.

Lingkungan: mengembalikan keseimbangan tanah dan hutan yang rusak oleh tambang dan sawit.

Kita tidak kekurangan contoh. Kolombia bangga dengan kopi, Vietnam agresif dengan beras, Sri Lanka hidup dari teh. Mereka fokus pada unggulan, bukan menebar ambisi setengah hati. Babel seharusnya mencontoh, bukan terlena pada euforia sesaat timah dan sawit.

Baca Juga  Peran Akuntansi dalam Pengembangan UMKM di Bangka Belitung

Jangan Jadi Generasi Pengkhianat

Sejarah sudah memberi pelajaran: lada dan karet menyelamatkan Babel dari badai krisis 1998. Jika hari ini kita rela menyingkirkannya demi komoditas instan, maka kita sedang menggadaikan masa depan anak cucu.

Timah seharusnya disimpan sebagai tabungan generasi mendatang, bukan diobral ke meja penyelundup. Sawit hanyalah tren global yang sewaktu-waktu bisa rontok. Tetapi ladalada adalah akar, marwah, dan identitas Babel.
Menolak Jadi Negeri Terkutuk

Babel tidak boleh dicatat sejarah hanya sebagai tanah tambang yang bopeng dan perkebunan sawit yang rapuh. Babel harus kembali dikenang sebagai negeri lada—negeri yang harumnya sampai ke meja makan dunia.

Jika kita terus berpaling, generasi ini akan tercatat sebagai generasi paling kelam: generasi yang menukar harum lada putih dengan debu timah yang diselundupkan dan hutan sawit yang mencekik.

Baca Juga  Saatnya Pelabuhan Pangkalbalam Menjemput Laut Dalam