Pemuda: Antara Api Perjuangan dan Kubangan Ketidakpedulian

Oleh: Anash Barokah

Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Siapa yang menguasai masa muda, dialah yang menguasai masa depan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan filosofis, melainkan peringatan keras: masa depan bangsa akan rapuh jika pemudanya kehilangan arah. Pemuda adalah energi sejarah, denyut progresif yang menjaga bangsa dari kejumudan. Tanpa mereka, rakyat kehilangan penggerak, dan negara kehilangan penopang moral bangsa.

Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan banjir digital, kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan pemuda kian apatis, terperangkap dalam kenyamanan semu, dan terbius candu teknologi. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang perlawanan justru menjelma gelanggang narsisme, tempat eksistensi ditakar oleh jumlah “like” dan “follower.”

Baca Juga  Timah Bangka Belitung: Berkah atau Musibah?

Wajah Apatisme Baru

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, mengatakan bahwa “manusia terkutuk untuk bebas.” Kebebasan bagi Sartre, bukanlah hak yang boleh diabaikan melainkan tanggung jawab yang wajib di pikul bersama.

1. Pasal 28E ayat (2)
“Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.”

1. UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum
– Menjamin hak warga negara untuk menyampaikan pendapat di ruang publik (demonstrasi, pawai, mimbar bebas, dsb).
– Namun harus dilaksanakan secara tertib, menghormati hak orang lain, dan sesuai hukum.
– Ada kewajiban pemberitahuan kepada aparat terkait sebelum melakukan aksi di ruang publik.

Baca Juga  Ketika Tunas Sastra Tumbuh di Ajang FLS3N

Jadi ketika pemuda hari ini memilih diam, memilih rebah dalam kenyamanan algoritma, sesungguhnya mereka tengah mengkhianati kodrat kebebasannya. Mereka menolak tanggung jawab untuk berjuang, padahal sejarah telah mengamanahkan itu di pundak mereka.

Kasus-kasus apatisme generasi muda terlihat jelas banyak yang lebih lihai membuat konten hiburan ketimbang menyuarakan kebenaran. Mereka lebih fasih bicara soal tren konsumtif ketimbang membahas ketidakadilan sosial. Mereka ramai dengan drama virtual, tetapi senyap ketika rakyat menjerit. Inilah wajah apatisme baru bukan karena takut, melainkan karena terlena.

Sejarah yang Menuntut

Padahal, sejarah bangsa ini membuktikan bahwa perubahan lahir dari keberanian pemuda. Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar puisi persatuan, melainkan teriakan keras anak-anak muda yang melawan kolonialisme. Gerakan mahasiswa 1966 menorehkan babak baru bagi politik bangsa. Reformasi 1998 berdiri di atas bahu mahasiswa yang menolak tunduk pada pemimpin otoritarianisme.

Baca Juga  Gawat! Dua Pemuda di Pangkalpinang Nekat Gasak Mesin, Uangnya untuk Mabuk Arak