Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 18)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Salah satu anugerah terbesar yang dimiliki Rasulullah ﷺ sejak sebelum masa kenabiannya adalah kemampuan menjalin relasi yang sehat dan hangat dengan semua lapisan masyarakat. Dari budak hingga bangsawan, dari anak-anak hingga tokoh masyarakat.

Sejak muda, beliau terkenal sebagai pribadi yang jujur, santun, dan bisa dipercaya. Julukan “al-Amin” (yang terpercaya) bukan hanya diberikan oleh satu atau dua orang, tapi oleh seluruh masyarakat Makkah, termasuk orang-orang yang di kemudian hari kelak akan menjadi penentangnya.

Kecerdasan Sosial Sejak Dini

Interaksi lintas sosial bukan hanya perkara berbicara atau sopan santun. Rasulullah ﷺ mampu membaca situasi, memahami karakter orang, dan berempati pada kebutuhan mereka. Itulah bentuk kecerdasan sosial yang luar biasa.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 18): Ayah yang Tidak Berhenti Berharap

Dengan para budak dan orang miskin, beliau bersikap lembut dan tidak pernah merendahkan.

Dengan para saudagar dan bangsawan, beliau berdialog setara, penuh adab, tanpa kehilangan prinsip.

Dengan anak-anak, beliau bercanda, memangku mereka, dan bahkan membiarkan mereka bermain di punggungnya saat sujud.

Kecerdasan sosialnya paling nyata terlihat dalam kisah Zaid bin Haritsah. Anak yang sebelumnya menjadi budak, dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah ﷺ. Muhammad ﷺ memperlakukan Zaid dengan penuh kasih dan penghormatan seperti anaknya sendiri.

Ketika akhirnya orang tua Zaid datang untuk menjemputnya, Rasulullah tidak memaksakan kehendak. Ia mempersilakan Zaid memilih:

“Zaid, engkau tahu siapa mereka. Jika engkau memilih untuk kembali, aku persilakan. Tapi jika kau ingin tetap bersamaku, aku juga menerimamu.”

Baca Juga  Mengenal Tradisi Kawin Massal: Adat Budaya Bangka sebagai Wujud Syukur

Zaid tanpa ragu memilih tinggal bersama Rasulullah ﷺ. Di depan ayah dan pamannya, ia berkata:
“Aku tidak akan memilih siapapun di atas orang ini. Aku tidak pernah mendapatkan perlakuan yang lebih baik selain darinya.”

Rasulullah ﷺ pun kemudian mempublikasikan bahwa Zaid adalah anak angkatnya, dan sejak saat itu ia dikenal sebagai Zaid bin Muhammad (sebelum kemudian aturan nasab dalam Islam diturunkan).

Ibn Hajar dalam Al-Iābah dan Ibn Sad dalam abaqāt mencatat peristiwa ini sebagai contoh awal dari akhlak dan penghormatan Rasulullah ﷺ kepada orang-orang terpinggirkan.