Pria berusia 35 tahun itu mengatakan kondisi ini seperti tidak ada pembiaran oleh pihak terkait. Padahal, kegiatan itu sudah lama berlangsung. Diduga ada praktik pelanggaran hukum di dalam aktivitas itu. Sebab, mobil yang antre di depan setiap harinya pasti akan sama.

“Kita bukan mau ganggu rezeki kawan bang, kita tahu kawan juga ada anak istri yang harus dinafkahi. Cuma yang harus dipikirkan juga keselamatan lah, karena antrean itu sampai pagi pasti padat sampai ke Tugu Duren. Apalagi ditambah hujan, kacau itu,” katanya.

“Karena drainase depan SPBU itu pun tidak ada bang. Air masuk jalan, yang hilir mudik ramai, apalagi jam sekolah dan pegawai kerja. Kadang picu emosi sesama pengendara, ada yang mau lewat kerja, sekolah, kendaraan umum yang mau isi bensin,” bebernya.

Baca Juga  Pelaku Pembunuhan Jamal Tiba di Pelabuhan Tanjung Kalian Mentok

Hal senada juga dikeluhkan warga lain di Kota Mentok, Muzakir. Dikatakan dia, pemerintah harus ambil bagian dalam aktivitas jual beli BBM di SPBU itu. Dia mengatakan, keselamatan pengguna jalan, ketertiban dan kelancaran arus lalu lintas adalah hal yang utama.

“Minta-minta jangan sampai terjadi lah sesuatu yang tidak diinginkan itu, tapi kalau terjadi, siapa yang mau dan siap bertanggungjawab. Karena antrean itu dua arah loh kalau malam, penerangan jalan redup. Ini yang harus diantisipasi dulu, coba cari solusinya,” katanya.

Menanggapi keluhan kondisi tersebut, awak media saat ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. Dari mulai pengelola SPBU itu sendiri, kepolisian setempat hingga pemerintah daerah yang memiliki kewenangan atas persoalan tersebut.

Baca Juga  Kisah Bangkai Kapal Tua di Pesisir Tanjung Kalian Bernama Van de Parra, Sekilas Mirip Titanic