Harwendro juga menyinggung kekhawatiran terhadap cadangan timah yang diperkirakan hanya bertahan 25 hingga 30 tahun ke depan. Ia menilai, jika eksplorasi baru terus dilakukan, maka ketersediaan timah juga akan meningkat seiring meningkatnya permintaan industri.

“Data itu kan dari pemerintah. Kalau kita dorong teman-teman melakukan eksplorasi, datanya akan meningkat lagi, tergantung dari aktivitas pengeboran dan riset,” jelasnya.

Selain fokus pada pengembangan riset, AETI juga menyoroti pentingnya penertiban ekspor dan pencegahan penyelundupan timah ke luar negeri, yang selama ini merugikan negara.

“Negara bisa rugi kalau timah diselundupkan, karena yang untung justru negara lain. Sekarang kita sudah bayar 7,5 persen setiap kali ekspor, jadi harus benar-benar direalisasikan agar penerimaan negara tidak bocor,” ujar Harwendro.

Baca Juga  UBB Buka Pendaftaran Calon Rektor, Riwan: Terbuka untuk Semua PTN

Di sisi lain, AETI juga mendukung upaya reklamasi lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung. Menurut Harwendro, program tersebut dilakukan secara bertahap untuk memperbaiki lingkungan yang terdampak aktivitas pertambangan.

“Kita mau tutup tambang-tambang bekas, mudah-mudahan nanti bisa menyusul sekitar tujuh puluh hektare lagi. Tapi dilakukan bertahap,” pungkasnya. (Heri-DS)