Buku “Lawang Uma” Karya Rapi Pradipta, Selalu Ada Pintu yang Menantinya untuk Pulang
Bagi Rapi Pradipta, Lawang Uma adalah pintu yang selalu terbuka untuk dirinya, terutama buat sang istri yang membuatnya yakin, kemana pun dia pergi, selalu ada pintu yang menantinya untuk pulang.
Menjadi guru di pulau terpencil, mengajarkannya arti rindu yang sesungguhnya.
“Saya percaya, rindu masih menantinya untuk pulang. Selalu ada Lawang Uma yang siap diketuk untuk dibuka,” ungkapnya.
Menulis bagi Rapi bukan sekadar goresan tangan, melainkan doa yang dititipkan lewat aksara.
Sementara penulis muda Bangka Selatan Erik Juliawan menggambarkan buku Lawang Uma karya Rapi Pradipta ini adalah Jejak perjalanan, rasa dan makna yang tumbuh dari sebuah pengalaman.
“Dan ini bukan hanya tentang cerita tapi juga tentang makna yang sangat relate dengan apa yang dirasakan dalam kehidupan pribadi seseorang,” ujarnya.
Selamat untuk Rapi Pradipta. Teruslah menyalahkan obor literasi dari Negeri Junjung Behaoh.
