“Perintah itu untuk mengevakuasi TB Tolandak I dan BG Mitra Makmur VIII yang kandas di perairan Pulau Seliu. Proses evakuasi berjalan sukses, dan pada pukul 17.40 WIB, TB Kawan Kita XI telah selesai menarik kedua kapal ke tempat berlabuh yang aman,” ujarnya.

Mereka kemudian melanjutkan menuju Pulau Mendanau di Selat Nasik, Pulau Belitung. Namun perjalanan mereka harus tertunda karena perubahan cuaca mendadak, disertai angin, hujan, dan ombak besar.

Menghadapi kondisi ekstrem, Nahkoda TB Kawan Kita XI memutuskan untuk berlindung dengan sandar di lambung kiri Kapal BG Mitra Makmur VIII. Akan tetapi, pada pukul 18.30 Wib, ombak besar membuat BG Mitra Makmur VIII hanyut menuju karang.

Baca Juga  Kapal AB Olivia Terbakar di Perairan Selat Karimata, Begini Nasib Dua ABK asal Vietnam

“Secara bersamaan, TB Kawan Kita XI yang bersandar turut kandas di atas karang dan batu. Benturan keras itu menyebabkan pendingin mesin TB Kawan Kita XI jebol. Upaya nahkoda untuk menyalakan mesin gagal total,” ungkap I Made Oka Astawa.

Pada 25 Oktober 2025 sekira jam 03.00 Wib, TB Kawan Kita XI mulai miring akibat kebocoran parah di kamar mesin. Sekitar 30 menit kemudian, jam 03.30 Wib, kapal akhirnya tenggelam. Para ABK bergegas menyelamatkan diri menggunakan Life Raft.

Namun, dalam proses evakuasi, salah satu ABK atas nama Selamet Riyadi meninggal dunia. Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, jenazah korban tidak dapat dinaikkan ke tangga Kapal BG Mitra Makmur VIII. ABK yang selamat hubungi SAR Pangkalpinang untuk minta pertolongan.

Baca Juga  Sesak Napas saat Mancing, Warga asal Pangkalpinang Meninggal di Perairan Tanjung Pesona

“Dari situlah kita memberangkatkan 1 Tim Rescue USS Tanjung Pandan ke lokasi kejadian. Tim terdiri dari Rescuer USS Tanjung Pandan, Ditpolairud Polda Babel, Satpolairud Polres Belitung, KPLP Belitung, dan KSOP Belitung. Tim berangkat menggunakan kapal nelayan KM Putra Bungsu Belitung,” ujarnya.