Dari Solar ke LPG, Transisi Nelayan Bangka Selatan
Meski begitu, adaptasi teknis tetap menjadi tantangan. Sebagian nelayan memerlukan waktu lebih lama untuk memahami cara kerja mesin dan sistem tekanan gas. Di sinilah pentingnya pendampingan teknis dan pelatihan berkelanjutan agar transisi energi tidak hanya berhenti di tahap bantuan alat.
Kendala Transisi Konversi
Program konversi ini terutama ditujukan bagi nelayan pemilik kapal kecil, terutama di bawah 5 GT, yang sebelumnya menggunakan mesin bensin tempel. Di Bangka Selatan, penerima bantuan tersebar di kecamatan Toboali, Pulau Besar, Tukak Sadai, Lepar, dan Pongok. Penerima bantuan diprioritaskan bagi mereka yang aktif melaut dan menggunakan mesin kapal berbahan bakar solar.
Namun, masih ada beberapa kendala, seperti keterbatasan pasokan gas di daerah kepulauan dan minimnya tempat pengisian ulang. Ketika cuaca buruk, pasokan gas sering terlambat, sehingga sebagian nelayan kembali menggunakan BBM agar tetap bisa melaut.
Masalah lain adalah minimnya keterampilan teknis dalam merawat mesin BBG. Beberapa nelayan mengaku kesulitan saat mesin macet atau tabung gas mengalami kebocoran kecil. Pelatihan teknis yang lebih intensif diperlukan agar nelayan benar-benar paham cara pemakaian dan perawatannya.
Transisi dari BBM ke BBG memberikan dampak ekonomi yang cukup terasa. Penggunaan LPG menurunkan biaya operasional harian dan memberikan stabilitas harga bahan bakar. Nelayan tidak lagi terlalu bergantung pada fluktuasi harga solar. Menurut Fauzi (2020), peralihan ke energi yang lebih efisien dapat meningkatkan pendapatan nelayan hingga 20 persen jika dilakukan secara konsisten.
Namun, transisi energi ini juga memiliki konsekuensi sosial. Ada kekhawatiran ketimpangan baru antara nelayan yang sudah menerima bantuan dan yang belum.
Beberapa kelompok nelayan di daerah terpencil belum terjangkau sosialisasi maupun distribusi alat. Hal ini sejalan dengan temuan Satria (2019) bahwa modernisasi teknologi perikanan sering kali menimbulkan kesenjangan sosial bila tidak diikuti dengan pendampingan yang merata.
Secara umum, program konversi BBM ke BBG merupakan langkah positif menuju perikanan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat, melainkan juga oleh kapasitas sosial dan teknis nelayan.
Diperlukan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan kelompok nelayan untuk memperkuat edukasi, pelatihan, serta infrastruktur energi di kawasan pesisir. Universitas Bangka Belitung, misalnya, dapat berperan dalam penelitian efisiensi mesin gas dan pelatihan lapangan bagi nelayan.
Pada akhirnya, modernisasi perikanan bukan hanya tentang mengganti bahan bakar, tetapi juga tentang mengubah cara pandang terhadap energi dan keberlanjutan. Selama nelayan terus belajar, beradaptasi, dan saling mendukung, transisi ini akan menjadi langkah maju menuju komunitas pesisir yang mandiri energi dan tangguh secara ekonomi.
