Fenomena Tren Suicide, Alarm Kesehatan Mental Generasi yang Sakit
Adapun untuk kasus pasangan muda Iwan dan Lusi yang mencoba bunuh diri itu disebabkan oleh faktor kegagalan dalam hubungan romansa karena cemburu yang berakhir tragis. Dari sini kita bisa melihat bahwa fenomena pergaulan muda-mudi sekarang sangatlah bebas dan jauh dari aturan agama.
Ketika seseorang jatuh cinta berlebihan pada manusia apalagi tidak ada ikatan sah dalam agama maka yang bermain pastilah hawa nafsu bukan meraih rida Allah. Hawa nafsulah yang memegang kendali seseorang ketika berbuat sesuatu sehingga wajar terkadang orang yang sedang pacaran bisa berpikiran sempit dan berbuat nekad seperti bunuh diri karena tidak ada filter pemahaman agama. Ini juga menunjukkan bahwa kesehatan mental generasi kita sedang tidak baik-baik saja.
Upaya bunuh diri apapun alasannya adalah perbuatan yang diharamkan dan tidak dibenarkan dalam kacamata Islam. Solusi bunuh diri tidak akan diambil oleh seorang Muslim yang mentalnya sehat dan matang secara emosional.
Sebenarnya, jika kita telisik lebih dalam, berbagai penyebab bunuh diri sejatinya berpangkal dari cara pandang Barat yang makin terhunjam di benak generasi, yaitu sekularisme.
Sekulerisme adalah cara pandang yang memisahkan agama dari kehidupan. Peran agama dijauhkan dalam mengatur kehidupan. Cara pandang inilah yang dipraktikkan dalam bernegara saat ini. Remaja kita tumbuh dan menjalani hidup tanpa menjadikan agama sebagai pedoman dan tuntunan termasuk dalam hal pergaulan sosial yakni menjaga batasan interaksi laki-laki dan perempuan sesuai Islam.
Cara pandang ini sangatlah berbahaya jika diadopsi oleh generasi Muslim. Bayangkan! bagaimana bisa remaja pada usia dengan kematangan emosi yang tidak stabil, menjalani hidup jauh dari tuntunan agama?
Agama hanya hadir di ranah privat saja seperti ibadah mahdoh (salat, zakat, puasa, haji, dll) bukan ranah publik (sistem pergaulan, pendidikan, ekonomi, politik, dll). Islam terlalu asing untuk dijadikan sebagai landasan berpikir dan berperilaku sebagaimana generasi emas terdahulu.
Padahal, dalam Islam, manusia wajib menjadikan syariat sebagai tuntunan dalam berpikir dan berperilaku.
Di dalam sistem kehidupan sekuler ini juga mengadopsi liberalisme (paham kebebasan). Semua bebas berperilaku, bebas mengadopsi nilai tertentu yang penting bahagia dan menyenangkan walaupun bertentangan dengan agama seperti lifestyle pacaran, seks bebas, kumpul kebo, hedonisme, LGBTQ+ yang dipromosikan peradaban Barat lewat media.
Pandangan inilah yang berkembang di kalangan generasi kita termasuk dalam pergaulan sosial mereka. Mereka terbiasa menormalkan hal itu. Pemahaman agama yang rapuh, plus gempuran budaya Barat yang serba bebas membuat generasi kita berada dalam kondisi terancam identitas dirinya sebagai Muslim.
Alhasil, tanpa memahami agama, generasi rentan mengalami tekanan dan depresi. Sedikit ada masalah saja, bunuh diri akan jadi solusi.
Islam Melindungi Mental Generasi
Islam memberikan tuntunan bagi manusia dalam menjalani hidup yang sehat. Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia semata untuk beribadah kepada Allah Taala. Hal ini menuntut manusia untuk senantiasa mengikatkan seluruh perbuatannya sesuai syariat. Makanya, tidak akan kita temui manusia yang taat syariat akan bingung menjalani hidup, apalagi kehilangan arah.
Salah satu sebab generasi mudah memutuskan bunuh diri karena mereka bingung menjalani hidupnya. Jadi, hal utama dan penting dilakukan saat ini adalah merevisi tujuan hidup mereka.
Islam sejatinya memberi perhatian besar pada generasi. Negara yang mengambil Islam sebagai landasan akan mengutamakan pembentukan generasi yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Dengan begitu mereka akan menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah depresi.
Berikut tiga tahapan praktis solusi Islam dalam melindungi kesehatan mental generasi.
Pertama, setiap orang tua menerapkan pola asuh berbasis aqidah islam kepada anak-anaknya. Dengan penanaman aqidah sejak dini, anak memiliki pemahaman bahwa dia adalah hamba Allah yang wajib taat kepada-Nya. Anak akan memiliki benteng iman yang kokoh yang bisa mencegah mereka berbuat maksiat dan melakukan hal negatif seperti bunuh diri.
Kedua, adanya kontrol masyarakat.
Dalam Islam, peran masyarakat begitu besar dalam mewujudkan generasi dengan keimanan yang kokoh yang menghasilkan mental yang kuat. Dengan beramar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat maka akan tercipta masyarakat yang sehat, saling mendukung dan bertanggung jawab terhadap kesehatan mental generasi di masa depan.
Ketiga, negara akan menerapkan sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam diterapkan mulai dari tingkat dasar hingga tinggi. Sekolah dasar akan menanamkan akidah Islam dan segala pemahaman Islam lainnya yang dapat menjadikan mereka punya pola pikir dan pola sikap islami. Saat pendidikan tinggi, mereka baru bisa diajarkan tsaqafah asing (pandangan hidup) agar tahu mana yang benar dan salah.
Akidah Islam inilah yang akan menjaga kewarasan mental generasi. Mereka akan lebih berpikir realistis, dapat menempatkan mana yang berada di wilayah yang dikuasai manusia dan mana yang tidak.
Mereka juga akan paham bahwa kebahagiaan tertinggi adalah meraih rida Allah, bukan sebatas kesenangan dunia. Jika Islam dapat diterapkan secara sempurna, tidak akan ada lagi generasi bermental lembek yang menjadikan suicide sebagai solusi.
Wallahu ‘alam bishowwab.
