Putri pasangan Zulkifli dan Siti Hafsoh yang lahir pada 16 September 2002 itu mengaku baru 1 tahun terakhir mulai menekuni cabang baru ini. Secara teknis, cabang Qiroat dan Hifdzil memiliki perbedaan yang sangat jauh, namun ia bisa melaluinya dengan baik.

“Sebagai peserta kafilah tuan rumah di MTQH ini bukan suatu hal yang mudah saya mengenakan cadar. Keputusan ini sudah saya pikirkan matang-matang, karena saya bercadar dalam sebuah perlombaan. Tapi itu tak masalah dan membuat saya menyerah,” katanya.

“Alhamdulillah sampai detik ini tetap Istiqomah memegang keyakinannya. Semua itu dilalui dengan perjuangan yang tak mudah,” kata peserta yang pernah mewakili Babel pada Cabang Hifdzil Al Qur’an 10 Juz di ajang STQH Tingkat Nasional di Jambi Tahun 2023.

Baca Juga  Jelang Pendaftaran Paslon, ASN hingga BPD di Bangka Barat Diminta Jaga Netralitas

Sebagai juara I pada cabang Qiroat, tiket untuk mengikuti MTQ Nasional Tahun 2026 terbuka lebar. Menghadapi ajang nasional ini, dia mengaku akan belajar lebih giat terutama pemahaman qoidah bacaan serta menjaga suara dengan rutin berlatih dan berlatih..

“Karena modal utama seorang Qoriah adalah suara. Saya harap memberikan hasil maksimal di tingkat masional nanti. Tapi secara pribadi saya ikut lomba pada MTQH ini bukan sekedar mengejar juara tapi juga sebagai sarana,” ungkap Siti Fatonah.

“Sarana apa, ya sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Quran dan mensyiarkan Al-Quran. Saya harap di MTQ juga nantinya dapat melahirkan para generasi- Qur’ani yang cinta paham, dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap alumni MTs dan MA Sabilul Muhtadin Jada Bahrin dan IAIN Syekh Abdurrahman Siddik itu.

Baca Juga  120 Peserta Ikuti Seleksi Paskibraka Babar, Kesbangpol Targetkan Nasional