Dari perspektif fungsionalisme yang dibahas oleh Emile Durkheim dan Talcott Parsons, pendidikan memiliki peranan penting dalam mempertahankan keseimbangan sosial serta membekali individu untuk berfungsi dalam masyarakat. Namun jika sebagian warga negara tidak mendapat akses pendidikan yang memadai, maka akan muncul disfungsi sosial di mana lembaga pendidikan tidak mampu menjalankan fungsi mereka secara merata.

Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah daerah mendirikan sekolah filial atau kelas jauh di Pulau Rengit sebagai langkah awal dalam mencapai pemerataan pendidikan dasar. Dalam jangka panjang pembangunan unit sekolah baru  terutama SMA atau SMK di wilayah terdekat  harus menjadi fokus utama agar kelanjutan pendidikan dapat terjamin setelah level SMP.

Sementara itu, berdasar pada teori konflik yang dikemukakan oleh Karl Marx serta Bowles dan Gintis, ketidaksetaraan dalam pendidikan merupakan gambaran dari ketidakadilan dalam distribusi sumber daya. Wilayah perkotaan menerima lebih banyak fasilitas dan tenaga pengajar berkualitas, sementara daerah terpencil seperti Pulau Rengit dan daerah sekitarnya masih perlu perhatian agar pendidikan mereka tidak jauh tertinggal.

Baca Juga  Tumbuhkan Kesalihan Lingkungan dengan War Takjil tanpa Sampah

Dalam konteks ini penting bagi pemerintah untuk menerapkan kebijakan afirmasi dengan melakukan distribusi anggaran pendidikan yang lebih merata, termasuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang secara proporsional dialokasikan ke daerah kepulauan. Di samping itu, kerjasama dengan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bisa menjadi alternatif yang efektif, seperti bantuan pembangunan infrastruktur sekolah, penyediaan transportasi yang aman, atau beasiswa bagi siswa yang perlu menyeberangi laut demi bersekolah.

Di sisi lain, interaksionisme simbolik menawarkan sudut pandang bahwa pendidikan memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar akses fisik, melainkan juga melibatkan pengalaman sosial dan psikologis siswa dalam menghadapi kendala. Anak-anak di Pulau Rengit seringkali merasa kurang percaya diri, lelah, bahkan putus harapan akibat perjalanan panjang dan berisiko hanya untuk menuntut ilmu.

Oleh karena itu, di samping upaya pembangunan fisik diperlukan pendekatan yang lebih sosial dan psikologis, seperti program motivasi belajar, dukungan dari guru dan kegiatan literasi masyarakat untuk menarik kembali semangat mereka. Peran guru dan orang tua sangat krusial dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung, agar siswa merasa berharga serta terdorong untuk belajar meskipun dalam kondisi terbatas.

Baca Juga  Satgas Halilintar Dikabarkan Gerebek Gudang Timah di Belitung, 1.000 Karung Timah Disita

Isu pendidikan di Pulau Rengit ini merupakan salah satu gambaran perjuangan anak-anak usia sekolah yang bertempat tinggal di pulau terpencil dalam mendapatkan pendidikan, hal ini tidak hanya menyoroti masalah infrastruktur, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial serta pemerataan dalam pembangunan manusia.

Ketika anak-anak di kota memiliki akses sekolah yang mudah, anak-anak di pulau ini harus menghadapi risiko perjalanan melintasi laut setiap harinya.

Ketidaksetaraan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya adil dan merata, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat harus segera menyusun strategi jangka panjang guna memastikan bahwa daerah-daerah kepulauan mendapatkan perhatian yang layak dalam pembangunan pendidikan.

Dengan membangun sekolah baru, memperkuat sarana transportasi pendidikan, memberikan beasiswa kepada siswa yang kurang mampu serta memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh, harapan bagi anak-anak Pulau Rengit dan pulau-pulau terpencil lainnya akan terwujud lebih nyata. Pendidikan tidak seharusnya menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang tinggal di kota, melainkan menjadi hak dasar yang dimiliki oleh setiap anak bangsa tanpa terkecuali.

Baca Juga  Semarak HUT ke-25 Babel, Gubernur Hidayat Berbagi Sembako ke Tanjung Binga Belitung

Oleh karena itu, perjuangan anak-anak Pulau Rengit yang setiap hari melintasi laut untuk memperoleh pendidikan seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua bahwa pendidikan di Indonesia masih menghadapi masalah kesenjangan yang perlu segera diatasi.

Di tengah keterbatasan geografis dan ekonomi, mereka tetap berjuang untuk mendapatkan ilmu. Semangat juang mereka adalah bukti bahwa harapan untuk masa depan yang lebih baik masih ada, asalkan negara hadir dengan kebijakan yang adil dan merata bagi seluruh anak bangsa.