Analisis mereka menunjukkan bahwa kelembapan udara, suhu tanah, dan intensitas cahaya berperan penting membentuk komposisi mesofauna. Hasil ini menjadi data dasar yang berpotensi digunakan untuk perencanaan reklamasi dan pemulihan ekologi di kawasan pasca-penambangan timah.

Puncak dari perjalanan penelitian ini adalah ketika keempat mahasiswa tersebut berhasil mempresentasikan karya ilmiahnya pada The 7th International Conference on Green Energy and Environment (ICOGEE) 2025, sebuah ajang akademik tingkat dunia yang digelar pada 21 Oktober 2025.

Melalui presentasi daring bertajuk Soil mesofauna community structure under Alstonia scholaris (L.) R. Br. stands in Bukit Pinteir, Central Bangka: relationship with abiotic and biotic factors, mereka mengangkat nama Bangka Belitung ke kancah internasional.

Baca Juga  PPK Proyek MOT RSUD Provinsi Babel Jadi Tersangka

Tidak berhenti pada konferensi, penelitian ini juga menghasilkan beberapa luaran lain: artikel ilmiah yang disiapkan untuk prosiding internasional, pendaftaran HAKI, produksi video pembelajaran untuk YouTube, serta publikasi di berbagai platform digital.

Menurut Dr. Eka Sari, keberhasilan ini bukan semata tentang publikasi ilmiah, tetapi tentang memberi ruang bagi mahasiswa untuk melihat dunia melalui mikroskop, namun berdampak pada skala yang jauh lebih besar.

“Program MBKB benar-benar membuka jalan bagi mahasiswa untuk menciptakan karya yang bukan hanya akademis, tetapi juga relevan bagi masa depan lingkungan Bangka Belitung,” ujarnya, Senin (17/11/2025).

Riset kecil dengan dampak besar itulah nilai yang tercermin dari perjalanan empat peneliti muda UBB ini. Lewat dunia mesofauna yang nyaris tak terlihat, mereka justru memperlihatkan betapa besarnya kontribusi sains bagi pemulihan bumi dan pembangunan daerah.

Baca Juga  Dorong Promosi Wisata di Desa Terong, Universitas Bangka Belitung Gelar Pelatihan Drone