Oleh: Marta Arya, Vera Ayu Lestari, Frans Tory D.P, dan Sofha Sopiyanti — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Sebagai kelompok yang tertarik dengan isu-isu multikulturalisme dan toleransi di Indonesia, tim penulis sangat mendukung pembangunan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Negeri (STiAKIN) di Air Itam.

Meskipun lokasinya tidak langsung di Belinyu, keberadan STiAKIN bukan sekadar simbol, melainkan langkah nyata untuk memperkuat inklusivitas nasional.

Dari perspektif tim penulis, persepsi masyarakat Tionghoa di Belinyu terhadap proyek ini cenderung positif, karena mereka melihatnya sebagai pengakuan negara atas agama Khonghucu dan cara untuk melestarikan identitas budaya mereka.

Keberadaan STiAKIn dapat menjadi contoh bagus bagi bangsa yang beragam, asalkan dikelola dengan hati-hati untuk menghindari polarisasi.

Baca Juga  Ini yang Disampaikan Kapolres Bangka saat Jadi Narasumber Legal Career Class UBB

Dari konteks historis, masyarakat Tionghoa di Belinyu telah lama mengalami marginalisasi, mulai dari era kolonial hingga regulasi pasca-kemerdekaan yang membatasi ekspresi budaya mereka.

Ini membuat mereka merasa terpinggirkan, dan STiAKIN, meski di Air Itam, terasa seperti respons tepat untuk mengembalikan solidaritas kelompok.

Hal ini bukan hanya tentang pendidikan tinggi, tapi simbol rehabilitasi sosial yang memperkuat posisi minoritas. Namun, kami khawatir tanpa pendidikan lintas-budaya, ini bisa dipersepsikan sebagai eksklusivisme oleh kelompok lain, memperburuk stereotip isolasi komunitas Tionghoa.