Padi Ladang Jadi Primadona Petani di Bangka, Dinas Pertanian Uji 8 Varietas Lokal di Subang
Ditambahkan Syarli, padi ladang varietas lokal yang diusulkan untuk dilepas Kementan ini sangat cocok ditanam di bumi Serumpun Sebalai mengingat karakteristik tanah yang marginal dan sudah adaptif dengan lingkungan Bangka Belitung. Hal ini dibuktikan dengan luasan tanam padi ladang hingga November minggu kedua seluas 2.392, 05 ha. Penanaman padi ladang terluas ada di Kecamatan Mendo Barat dengan luas tanam 944,45 ha disusul dengan Kecamatan Puding Besar seluas 707,05 ha kemudian Kecamatan Riau Silip seluas 388,80 Ha, Kecamatan Belinyu 183,20 Ha, Kecamatan Bakam 165,45 Ha dan terakhir Kecamatan Merawang 3,10 Ha.
“Kalau dilihat dari persentase luas tanam, petani padi di Kabupaten Bangka lebih banyak menanam padi ladang dibandingkan padi sawah. Masyarakat kita memang dari dulu sudah terbiasa bertanam padi ladang dengan varietas lokal. Ini adalah kearifan lokal yang harus kita jaga dan pertahankan. Jarang ada petani yang gagal panen menanam padi ladang varietas lokal ini. Paling kendala yang dihadapi petani dikarenakan serangan tikus dan burung saja. Untuk hama dan penyakit lain sangat minim, mungkin dikarenakan padi ini sudah beradaptasi dengan lingkungan Bangka Belitung,” kata Syarli
Rencana pelepasan padi ladang varietas lokal ini disambut baik oleh masyarakat khususnya petani padi ladang Kabupaten Bangka. Muzamil, Ketua Gabungan Kelompok Tani Benua Cemerlang Desa Paya Benua sangat berharap padi ladang varietas lokal segera diakui oleh Kementrian Pertanian sehingga petani tidak lagi kesulitan dalam memperoleh benih.
“Selama ini kita tanam padi ladang, benihnya hasil simpanan panen sebelumnya. Kalaupun tidak ada simpanan biasanya kita pinjam dari petani lain. Jadi untuk tanam dalam skala besar belum pernah dilakukan. Karena menanamnya dalam luasan terbatas, hasil panennya pun hanya untuk konsumsi sendiri,” tutur Muzamil
Muzamil mengatakan saat ini padi ladang yang ditanam anggota kelompoknya mencapai hampir 300 hektare. Jenis padi yang ditanam yakni varietas Raden, Mayang Pandan dan Balok. Rata-rata per anggota kelompok menanam satu sampai dua hektar dengan waktu tanam satu kali setahun.
“Untuk padi ladang kami tidak pernah tanam varietas luar, masyarakat sini sudah terbiasa dengan rasa nasi dari padi lokal. Selain itu, penanamannya tidak sulit, jarang kami gagal panen. Jadi kalau pemerintah berhasil mengadakan benih padi lokal, kami petani sangat terbantu sekali,” tambah Muzamil.
