“Arah pemajuan kebudayaan di Babel sudah semakin kuat dan produktif. Kami berharap agar pemerintah dapat terus mendukung upaya-upaya pengembangan kebudayaan di daerah. Kami juga berharap agar kesepakatan yang telah ditandatangani hari ini dapat segera direalisasikan. Ini merupakan kerja cepat DK se-Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam menindaklanjuti poin-poin yang dirumuskan dalam Musyawarah Besar Dewan Kesenian se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bulan lalu. Pertemuan malam ini menjadi begitu penting dan menentukan arah kebijakan kolektif pelaku seni-budaya di BaBel ke depan,” ujarnya.

Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa tokoh seni budaya perwakilan Dewan Kesenian di Babel, Shasa Apriva Rustam dari Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Putra Gong dari DK Provinsi yang juga mewakili DK Bangka Tengah, dan Alfris Sarwinto dari DK Pangkalpinang.

Mereka sepakat bahwa kebudayaan dan kesenian merupakan aspek penting dalam pembangunan daerah yang harus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Baca Juga  Tukang Parkir Diskotek X-Bar Pangkalpinang Bersimbah Darah usai Ditikam Pria Mabuk

“Karena itu, sejak awal kami bersepakat kerja kolektif Dewan Kesenian dan Lembaga Adat Melayu di Babel harus lebih diperkuat. Dan sangat aneh jika masih ada yang ngotot membicarakan Dewan Kebudayaan di Babel,” ujar Putra yang dikonfirmasi melalui pesan daring.

“Kami pikir Babel harus berbenah, tidak hanya pelaku seni- budayanya, tetapi termasuk dinas terkait yang beririsan dengan kegiatan Dewan Kesenian dan Lembaga Adat Melayu di Babel. Kita patut mendorong pemerintah berbenah, jika perlu, mempertimbangkan keberadaan subjek-subjek di dinas terkait untuk dilakukan penyegaran. Butuh orang baru yang lebih berkompeten dan bisa bekerja dengan baik. Kita sepakat menunda Dewan Kebudayaan, eh masih ada yang mencoba membangun narasi Dewan Kebudayaan. Lucu dan konyol,” tutup Wanda dengan nada bijak.

Baca Juga  Antisipasi Persoalan Doping, KONI Babel Gelar Sosialisasi ke Atlet dan Pelatih

Salah satu budayawan Belitung yang ikut menghadiri pertemuan malam itu juga, Fitrorozi, berpendapat bahwa, “Di Belitung juga sudah banyak pergerakan kebudayaan yang dilakukan secara inklusi antar pelaku kesenian, hanya saja masih minim sumbangsih pemerintah. Saya harap dengan pertemuan malam ini dapat menjadi angin segar bagi pelaku seni-budaya Bangka Belitung, terkhusus menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan aspek-aspek kebudayaan, termasuk Kerontjong Stambul Fajar itu mulanya keresahan kawan-kawan seniman yang merasa perlu merawat kesenian lokal kita,” ujarnya.

Ahmad Rojali selaku Tenaga Ahli Komisi X DPR RI menyambut baik setiap poin-poin yang disampaikan.
Beliau menegaskan bahwa ia akan ikut membantu mengawasi dan memberikan rekomendasi terkait poin-poin yang telah ditandatangani bersama.

“Kami dari Komisi X juga mempunyai tugas utama, salah satunya mencari cagar budaya terbengkalai di masing-masing daerah. Saat tiba di Bangka, kami miris sekali melihat kondisi Cagar Budaya Kota Kapur, padahal itu merupakan sejarah peradaban dan bukti nyata kemajuan Bangka di masa lampau. Kami akan mencoba sebaik yang kami mampu untuk merealisasikan poin-poin yang disampaikan kawan-kawan,” ujarnya.

Baca Juga  Ngopi OK Hadirkan Kaesang Pangarep Diskusi Bersama Muda-Mudi Babel

Melalui konsolidasi yang solid tersebut, Dewan Kesenian dan Lembaga Adat Melayu berharap pemajuan kebudayaan di Bangka Belitung dapat dikelola lebih terarah, terintegrasi, dan berdampak langsung bagi pendidikan, pariwisata, serta ekonomi kreatif daerah.

Kesepakatan ini bukan sekadar daftar janji, tetapi cermin harapan baru agar kebudayaan yang menjadi akar masyarakat Babel mendapatkan ruang tumbuh yang lebih kokoh. Di tengah tuntutan pembangunan modern, pelestarian identitas menjadi jangkar penting agar masa depan tidak tercerabut dari sejarah. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pemajuan kebudayaan adalah investasi jangka panjang bagi martabat daerah.