Selain itu, warga juga mempertanyakan kontribusi perusahaan terhadap Desa Puput apabila pabrik benar-benar berdiri.

Batianus meminta Komisi II dan III DPRD Bateng segera turun ke lokasi dan membuka ruang komunikasi antara pihak perusahaan, camat, kepala desa, serta masyarakat.

“Ada miskomunikasi yang harus diselesaikan. Masyarakat sebenarnya mendukung investasi karena berharap harga TBS bisa meningkat,” katanya.

Sementara itu, perwakilan masyarakat Desa Puput, Sardi, menegaskan bahwa warga tidak menolak pembangunan, namun ingin agar semua berjalan sesuai aturan.

“Desa ada pemasukan, perusahaan juga dapat keuntungan. Tapi jaraknya tidak logis untuk dijadikan pabrik. Hanya 321,19 meter dari pintu depan rumah saya, terlalu dekat,” ujarnya.

Ia berharap ada solusi yang menguntungkan semua pihak.

Baca Juga  Polres Bateng Ungkap Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, 3,4 Ton Pertalite Diamankan

“Silakan berjalan, tapi sesuai prosedur. Sekarang sudah ada pembersihan lahan, kalau bisa titiknya digeser, jangan terlalu dekat,” tambahnya.