Dalam status sosial, kita berhutang demi membeli barang branded agar terlihat sukses di mata followers, padahal kita mengorbankan ketenangan finansial (sesuatu yang sejatinya terbaik untuk masa depan).

Psikolog Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice, menjelaskan fenomena ini melalui konsep Maximizer.

Seorang maximizer adalah tipe orang yang selalu mencari opsi absolut terbaik dan tidak pernah puas dengan cukup baik (good enough). Media sosial mengubah kita menjadi maximizers yang kronis. Algoritma menyuguhi kita ribuan opsi kehidupan orang lain setiap detik, membuat kita merasa bahwa pilihan yang kita ambil saat ini, pasangan kita, jurusan kuliah kita, pekerjaan kita adalah pilihan yang salah atau kurang sempurna.

Baca Juga  Merdeka Belajar Anak Usia Dini, Pentingkah?

Schwartz menekankan bahwa mentalitas ini adalah resep utama ketidakbahagiaan. Saat kita mengejar kesempurnaan (yang sebenarnya tidak ada), kita mengalami regret (penyesalan) yang tidak perlu. Kita sibuk mencari rumput tetangga yang lebih hijau, padahal rumput itu hijau seringkali hanya karena diberi filter saturasi tinggi.

Kita sering lupa bahwa apa yang tampil di layar adalah kurasi, bukan realitas utuh. Bahaya terbesarnya adalah kita menjadi orang yang membuang berlian di tangan, berupa kesehatan, keluarga yang hangat, dan teman yang tulus, hanya karena sibuk mengejar batu kali yang berkilau karena efek cahaya kamera.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengejar fatamorgana kesempurnaan digital dan mulai memeluk ketidaksempurnaan yang nyata dan indah di depan mata. Karena seringkali, “yang terbaik” itu tidak perlu dicari jauh-jauh; ia sudah ada di rumah, menunggu kita meletakkan ponsel.

Baca Juga  Pentingnya Harmonisasi Berbasis Kearifan Sosial-Budaya