Film “Timur”, Hasil Penjualan Tiketnya akan Disumbang untuk Korban Banjir
“Ini bukan tentang siapa, terlebih bicara berapa besar, berapa banyak, berapa besar atau sudah berkontribusi apa dalam musibah banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Namun ini tentang bagaimana kita hadir sebagai saudara sebangsa, setanah air, sebagaimana pesan dari Timur, kita tidak sedarah tapi kita saudara. Kita Indonesia, kita Timur,” tegas Bang Aloy.
Pria kelahiran Bangka Belitung memastikan Uwais Pictures akan selalu menjadi bagian dalam melestarikan tradisi gotong royong, kultur budaya asli bangsa Indonesia agar terus mengakar kuat sejak, dimana nilai-nilai gotong royong ibukan hanya mencerminkan semangat kebersamaan, solidaritas, kepedulian sosial, namun juga menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat, perekat keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
“Kita semua berasal dari bumi NKRI yang sama. Terlahir dari rahim pejuang dimana prinsip dasar Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan yang termakjub dalam Pancasila, sejatinya ini tercermin dalam sikap dan perilaku segenap bangsa di republik ini,” tutur Yentonius.
Diproduksi oleh Uwais Pictures, TIMUR mengusung film aksi Indonesia dengan koreografi pertarungan intens, visual sinematik modern, serta narasi heroik yang berakar pada nilai kemanusiaan, perjuangan dan nasionalisme.
Di tengah dominasi film Hollywood, TIMUR tampil berani head to head melawan Avatar: Fire and Ash, film blockbuster karya sutradara legendaris James Cameron, disaat banyak film lain memilih menghindar demi keamanan box office, TIMUR justru maju dan mengambil risiko penuh.
Bang Aloy menuturkan bahwa pertarungan TIMUR vs Avatar bukan hanya soal perolehan penonton, tetapi juga tentang harga diri dan kepercayaan diri industri film Indonesia.
“Kalau setiap film Hollywood datang kita selalu menyingkir, maka kita menyerahkan layar kita sendiri. TIMUR adalah pesan sekaligus simbol bahwa karya anak bangsa tidak inferior,” pungkasnya.*
