Proyek Semester 5 yang Dikira Tugas Akhir: Mahasiswa Telkom Surabaya Bangun Sistem Pelaporan Pelecehan Berbasis Kecerdasan Buatan
Tim mengembangkan fitur Wawasan sebagai bekal pengetahuan. Konten mencakup cara mengenali tanda-tanda pelecehan, prosedur pelaporan yang aman, hak-hak korban sesuai UU TPKS No. 12/2022 dan Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021. Berbeda dengan fitur Chatbot dan Lapor yang responsif terhadap kejadian, Wawasan menjadi instrumen preventif.
Saran integrasi blockchain datang dari Bu Ayu dalam sesi pembimbingan lain. “Sayang kalau sistem ini hanya menjadi tugas besar yang setelah selesai tidak diurus lagi. Ini punya potensi riset jika didukung lebih jauh.” Pertimbangannya mengakar pada kelemahan fundamental sistem pelaporan konvensional: masalah kepercayaan.
Bahkan sistem dengan enkripsi AES masih memiliki celah: siapa yang memegang kunci enkripsi? Bagaimana memastikan tidak ada satu pihak pun yang bisa mengakses atau memanipulasi laporan secara sepihak? Masalah ini dikenal sebagai single point of failure, titik kerentanan tunggal dalam sistem terpusat.
Tim merancang solusi menggunakan algoritma Shamir’s Secret Sharing dengan mekanisme threshold cryptography. Kunci untuk membuka laporan korban dipecah menjadi tiga bagian. Satu bagian dipegang Rektorat, satu oleh Ketua Satgas PPKPT, satu lagi oleh perwakilan mahasiswa dari BEM. Pembukaan laporan membutuhkan minimal dua pihak yang sepakat dan menyatukan kunci mereka.
Proses matematis melibatkan interpolasi polinomial Lagrange. Kunci utama menjadi konstanta dalam polinomial, sistem menghasilkan titik-titik koordinat yang didistribusikan kepada pemegang kunci. Hash dari setiap pecahan dicatat dalam smart contract blockchain untuk memastikan integritas saat penyatuan. Tidak ada satu orang pun yang bisa membuka laporan sendirian. Transparansi terjaga, anonimitas korban tetap terlindungi dengan arsitektur terdesentralisasi.
Pendekatan ini yang membedakan SIGAP dari platform serupa seperti SAPA129 atau Halo KemenPPPA. Layanan pemerintah tersebut belum mengintegrasikan blockchain dan sistem alert komunitas real-time. SIGAP menawarkan alternatif dengan teknologi lebih terdesentralisasi, menghilangkan dependensi pada satu pihak pemegang kontrol.
Pak Kamal membuka cakrawala lebih luas: potensi komersialisasi dan skalabilitas. “Kalian bisa tawarkan ini ke banyak mitra. Bukan hanya kampus, tetapi industri, perusahaan, organisasi.” Pandangannya mengarah pada pengembangan aplikasi mobile dengan fitur tombol darurat.
Kembali pada perhitungan detik di awal. Dalam situasi bahaya, pengguna tidak punya waktu untuk membuka browser dan mencari website. Aplikasi mobile yang wajib diinstal oleh seluruh anggota institusi menjadikan tombol darurat hanya satu sentuhan. Notifikasi langsung menyebar ke pengguna lain dalam radius tertentu, menampilkan lokasi kejadian secara real-time.
Sistem alert komunitas semacam ini mengubah bystander pasif menjadi responden aktif. Bukan lagi mengandalkan korban untuk mencari pertolongan dalam kondisi terancam, tetapi memobilisasi komunitas untuk merespons dengan cepat. Visi ini masih dalam tahap perencanaan, namun menunjukkan bahwa SIGAP dirancang untuk berkembang melampaui tugas akademik.
Pameran tugas besar pada 13 Januari 2026 menjadi uji publik pertama. Pengunjung datang dengan beragam pertanyaan. Ada yang mendalami aspek teknis chatbot, ada yang tertarik dengan arsitektur blockchain, ada pula yang mengapresiasi pendekatan humanis dalam desain.
Beberapa pengunjung bertanya apakah sistem ini sudah bisa diimplementasikan di institusi mereka. Pertanyaan tersebut memberi sinyal: SIGAP bukan hanya menarik secara konseptual, tetapi memiliki potensi adopsi riil.
Kolaborasi dua mata kuliah di semester lima Program Studi Teknologi Informasi Telkom University Surabaya ini menghasilkan lebih dari pemenuhan tugas akademik. Ada kesadaran yang berkembang: teknologi tidak cukup hanya berfungsi. Ia perlu mendengar, memahami konteks, merespons dengan cara yang sesuai kondisi pengguna.
Di tengah euforia transformasi digital dan inovasi teknologi, pertanyaan mendasar sering terlupakan: teknologi untuk siapa, dan untuk menyelesaikan masalah apa? Tim mahasiswa ini mencoba menjawab dengan membangun sistem yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi hadir pada saat yang paling dibutuhkan, dengan cara yang paling manusiawi, dan yang terpenting: menjaga anonimitas mereka yang paling rentan.
SIGAP membuktikan bahwa teknologi bisa belajar untuk peka. Bahwa enkripsi dan blockchain bukan sekadar matematika abstrak, tetapi instrumen untuk membangun kepercayaan. Bahwa sistem pelaporan bisa menjadi ruang aman, bukan prosedur administratif yang menambah beban psikologis korban.
Perjalanan dari kritik tajam di ruang kelas hingga respons positif di pameran publik menunjukkan satu hal: ketika teknologi dirancang dengan pemahaman mendalam terhadap masalah manusia yang ingin diselesaikan, hasilnya bukan hanya sistem yang berfungsi, tetapi solusi yang bermakna.
