PANGKALPINANG, TIMELINES.ID– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatat wilayah ini masih mengalami inflasi pada Januari 2026. Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan kondisi nasional yang justru mengalami deflasi sebesar 0,15% (mtm).

Kepala Perwakilan BI Babel, Rommy S. Tamawiwy, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi menjadi pemicu utama. Kondisi ini membuat banyak nelayan enggan melaut, sehingga pasokan komoditas laut di pasar menyusut.

“Kondisi cuaca mengakibatkan berkurangnya pasokan ikan dan cumi-cumi yang berdampak langsung pada kenaikan harga. Namun, TPID di seluruh Babel terus berkomitmen menjaga ketersediaan stok agar tetap mencukupi kebutuhan masyarakat,” ujar Rommy dalam rilis resminya, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga  KM Surya Hasil Laut-22 Terbakar di Perairan Pulau Dua, Nakhoda Tewas dan 1 ABK Hilang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan Babel pada Januari 2026 berada di angka 0,28% (mtm). Meski masih inflasi, angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 0,55% (mtm).

Kenaikan harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi motor utama inflasi dengan andil sebesar 0,67% (mtm). Komoditas seperti ikan tenggiri, ikan selar, dan cumi-cumi tercatat sebagai penyumbang kenaikan tertinggi.

Secara tahunan (yoy), inflasi Babel menyentuh angka 3,95%, melampaui inflasi nasional yang berada di level 3,55%. Selain faktor pangan, inflasi tahunan ini dipicu oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 19,20% (yoy). Hal ini disebabkan oleh kembalinya tarif listrik ke harga normal tanpa skema diskon.

Baca Juga  Selamat, Atlet Babel Raih 1 Medali Emas dan 2 Perunggu di Kejurnas Atletik 2024