Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 2)
Buya Hamka menegaskan bahwa nasihat ini sama sekali bukan tanda pilih kasih. Beliau menulis bahwa Nabi Ya’qub adalah ayah yang memahami tabiat manusia dan realitas sosial. Ia tahu bahwa kecemburuan bisa tumbuh di dalam keluarga, bahkan di antara orang-orang yang masih terikat darah dan iman. Kebaikan, jika disampaikan tanpa kebijaksanaan, justru bisa menjadi sumber kerusakan.
Larangan tersebut sebagai bentuk pendidikan sosial dan psikologis. Yusuf sedang diajari bahwa tidak semua nikmat harus diceritakan, dan tidak semua orang siap menerima kelebihan orang lain. Ini bukan ajaran untuk curiga berlebihan, melainkan pelajaran membaca keadaan dengan jernih.
Hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena itu, mencegahnya sejak awal adalah bentuk kasih sayang, bukan ketakutan. Nabi Ya’qub sedang melindungi putranya, bukan mengekangnya.
Sikap Nabi Ya’qub adalah sebagai upaya “menjaga mimpi”. Mimpi Yusuf tidak dimatikan, tidak pula dibesar-besarkan. Ia dijaga agar tumbuh pada waktunya, seperti benih yang akan rusak jika dipaksa tumbuh sebelum musimnya tiba.
Di sinilah pelajaran parenting Islami menjadi sangat terasa. Salah satu kebutuhan dasar anak adalah merasa aman untuk berbicara. Anak yang ceritanya dipatahkan, diremehkan, atau ditertawakan, akan belajar menutup diri. Sebaliknya, anak yang didengar dengan penuh perhatian akan tumbuh dengan kepercayaan diri dan kejujuran.
Apa yang dilakukan Nabi Ya’qub sejalan dengan prinsip ini. Ia mendengar cerita Yusuf dengan serius, lalu mengarahkannya dengan hikmah. Tidak ada bentakan, tidak ada ejekan, tidak ada penghakiman. Abdullah Nasih Ulwan menyebut pola ini sebagai tarbiyah bil hikmah, mendidik dengan kebijaksanaan, bukan dengan emosi.
Penggalan kisah ini mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang aman bagi jiwa anak. Yusuf berani bercerita karena ia percaya. Nabi Ya’qub menjaga cerita itu karena ia mencintai.
Banyak keluarga hari ini kehilangan momen-momen kecil seperti ini. Anak ingin bercerita, tetapi orang tua terlalu sibuk mengoreksi. Anak ingin bertanya, tetapi jawabannya justru mematikan rasa ingin tahu. Perlahan, cerita berhenti. Kepercayaan memudar.
Surat Yusuf mengingatkan kita, dari percakapan sederhana yang dijaga dengan kasih dan hikmah, Allah bisa menumbuhkan kisah hidup yang luar biasa. Dan dari rumah yang aman, Allah menyiapkan seorang nabi untuk menghadapi ujian terberat dalam hidupnya.
