Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 3)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketenteraman anak sering kali bukan ditentukan oleh situasi, melainkan oleh sikap orang tua dalam menyikapi situasi.
Nasihat Nabi Ya’qub lahir dari kasih sayang yang disertai pengetahuan tentang jiwa manusia. As-Sa’di menekankan bahwa ayah yang baik bukan hanya melindungi tubuh anak, tetapi juga melindungi hatinya dari guncangan yang belum mampu ia tanggung.
Adapun Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an melihat ayah sebagai figur penenang di tengah potensi konflik. Menurutnya, Nabi Ya’qub adalah sosok yang menghadirkan stabilitas. Ketika dunia di sekitar Yusuf kelak berubah menjadi keras, memori tentang ayah yang tenang inilah yang menjadi bekal batin Yusuf untuk bertahan.
Ayah, adalah titik keseimbangan. Jika titik ini goyah, maka seluruh bangunan emosi anak ikut goyah.
Abdullah Nashih Ulwan penulis buku Tarbiyatul Aulad menjelaskan bahwa salah satu kebutuhan mendasar anak adalah kehadiran emosional ayah. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir dengan perhatian, kesabaran, dan ketenangan.
Ayah yang mudah marah, tergesa-gesa, atau terlalu keras dalam merespons cerita anak, akan membuat anak belajar satu hal: emosi harus disembunyikan. Sebaliknya, ayah yang tenang akan membentuk anak yang berani terbuka dan stabil secara jiwa.
Nabi Ya’qub memberi contoh nyata. Ia tidak memperlihatkan kegundahan batinnya kepada Yusuf. Ia menyerap kekhawatiran itu sendiri, lalu mengubahnya menjadi nasihat yang menenteramkan. Inilah bentuk kepemimpinan emosional dalam keluarga.
Di banyak keluarga hari ini, ayah sering diposisikan hanya sebagai pencari nafkah. Urusan emosi dianggap wilayah ibu. Padahal Al-Qur’an justru menunjukkan bahwa ayah memiliki peran sentral dalam stabilitas batin anak.
Anak yang melihat ayahnya tenang akan belajar mengelola emosinya. Anak yang melihat ayahnya panik, mudah tersinggung, atau jauh secara emosional, akan tumbuh dengan kegelisahan yang sama.
Tulisan ini mengajak para ayah untuk kembali hadir, bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan ketenangan sikap. Kadang anak tidak butuh jawaban, ia hanya butuh ayah yang mau duduk dan mendengarkan tanpa menghakimi.
