Oleh: Irfan Rahmi, A.Md. — Guru Qur’an Cahaya

Dunia yang Tidak Pernah Tidur

Pukul enam pagi, dan hal pertama yang kita genggam bukanlah segelas air putih atau tangan orang terkasih, melainkan sebuah persegi kaca bercahaya yang menuntut perhatian penuh. Sebelum kesadaran benar-benar terkumpul, pikiran kita sudah dipaksa berkelana melintasi benua, mengintip aktivitas orang asing, hingga terjebak dalam pusaran opini yang tidak kita butuhkan. Di era ini, “hadir” secara digital telah menjadi kewajiban yang melelahkan. Kita seolah-olah hidup di dalam sebuah akuarium raksasa di mana privasi adalah barang antik dan keheningan dianggap sebagai ancaman.

Fenomena ini menciptakan beban mental yang nyata. Kita sedang mengalami krisis eksistensi yang aneh; kita merasa tidak ada jika tidak mengunggah, dan merasa tertinggal jika tidak memantau. Padahal, di tengah riuh rendah notifikasi yang tak kunjung usai, ada sebuah kemewahan baru yang mulai terlupakan oleh manusia modern—yaitu kemampuan untuk menarik diri. Inilah yang disebut sebagai “Seni Menghilang”. Sebuah upaya sadar untuk menjadi tidak terjangkau sejenak, agar kita bisa kembali ditemukan oleh bagian terdalam dari diri kita yang selama ini tenggelam dalam riuhnya arus informasi.

Baca Juga  Guru Cerdas Bermedia Sosial

Penjara Notifikasi dan Ekonomi Perhatian

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk sekadar meletakkan ponsel? Jawabannya terletak pada cara kerja ekosistem digital saat ini. Media sosial dan aplikasi pesan instan dirancang dengan algoritma yang mengeksploitasi psikologi manusia secara mendalam. Setiap getaran notifikasi memicu pelepasan dopamin di otak, menciptakan siklus adiksi yang membuat kita terus-menerus haus akan validasi berupa like, komentar, atau sekadar dilihat oleh orang lain.

Dalam dunia industri modern, perhatian kita adalah komoditas utama. Setiap detik yang kita habiskan untuk menggulir layar (scrolling) dikonversi menjadi data yang bernilai ekonomi bagi korporasi teknologi. Akibatnya, batas antara ruang publik dan ruang pribadi menjadi semakin kabur. Kita merasa harus selalu tersedia (always-on) untuk membalas pesan kerja di luar jam kantor atau merespons komentar di media sosial dengan segera. Tanpa sadar, kita kehilangan kedaulatan atas waktu kita sendiri. Seni menghilang mengajarkan kita bahwa kita memiliki hak untuk tidak selalu tersedia bagi dunia, demi menjaga kesehatan mental dan integritas diri.

Baca Juga  Bijak Mengelola Sumber Daya Rajungan di Bangka Selatan

Dari FOMO Menuju JOMO: Merayakan Ketidakhadiran